Jalan Munuju Proklamasi, 11 Agustus Soekarno dan Hatta Bertemu Marsekal Hisaichi di Dalat Vietnam

Soekarno dan Moehammad Hatta. Dokumentasi Arsip Nasional RI

Jalan Munuju Proklamasi, 11 Agustus Soekarno dan Hatta Bertemu Marsekal Hisaichi di Dalat Vietnam

Whisnu Mardiansyah • 11 August 2026 11:26

Jakarta: Empat hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, rangkaian menuju lahirnya negara merdeka memasuki salah satu fase penting. Pada 11 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat bertemu dengan Marsekal Hisaichi Terauchi di Dalat, Vietnam.

Pertemuan itu berlangsung ketika posisi Jepang dalam Perang Dunia II semakin terdesak. Hiroshima baru saja dihantam bom atom pada 6 Agustus 1945, sementara Jepang menghadapi tekanan militer yang semakin besar dari Sekutu.

Dalam situasi tersebut, pembicaraan di Dalat menjadi bagian dari rangkaian peristiwa politik yang berlangsung sangat cepat hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Soekarno, Hatta, dan Radjiman berangkat ke Dalat dalam kapasitas sebagai tokoh Indonesia yang terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan. Terauchi saat itu menjabat Panglima Tertinggi Tentara Jepang untuk kawasan Asia Tenggara. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi ketiga tokoh Indonesia untuk memperoleh informasi langsung mengenai perkembangan politik serta rencana Jepang terhadap Indonesia.
 


Dalat menjadi lokasi pertemuan karena kota tersebut merupakan salah satu pusat penting pemerintahan dan militer Jepang di kawasan Indochina pada masa akhir pendudukan Jepang.

Pertemuan berlangsung hanya beberapa hari sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Situasi perang turut memengaruhi dinamika politik di wilayah pendudukan Jepang, termasuk Indonesia.

Jepang Berada di Ujung Perang

Untuk memahami arti penting pertemuan Dalat, situasi Perang Dunia II pada saat itu perlu dilihat secara lebih luas. Pada 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Tiga hari kemudian, bom atom dijatuhkan di Nagasaki. Pada 8 Agustus 1945, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang dan mulai melakukan serangan terhadap wilayah pendudukan Jepang di Asia.

Rangkaian peristiwa tersebut membuat posisi Jepang semakin sulit. Di Indonesia, kondisi tersebut turut mempercepat perubahan situasi politik. Para tokoh pergerakan dan kelompok pemuda melihat kekalahan Jepang sebagai momentum untuk menentukan masa depan Indonesia sendiri.

Pertemuan Dalat sering ditempatkan dalam rangkaian proses politik menuju kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya, Jepang telah membentuk BPUPKI untuk membahas berbagai persoalan persiapan negara. Setelah badan tersebut dibubarkan, Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI.

Soekarno dan Hatta memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Radjiman Wedyodiningrat juga merupakan tokoh senior yang sebelumnya memimpin BPUPKI.

Pertemuan dengan Terauchi menjadi bagian dari komunikasi antara pemimpin Jepang dan tokoh-tokoh Indonesia pada masa ketika kekuasaan Jepang mulai berada di ujung tanduk. 
 


Empat Hari yang Mengubah Sejarah Indonesia

Rentang waktu 11 hingga 17 Agustus 1945 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Pada 11 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Radjiman bertemu Terauchi di Dalat. Empat hari kemudian, Jepang menyerah kepada Sekutu.

Kabar menyerahnya Jepang kemudian memicu perbedaan pandangan antara kelompok senior dan pemuda mengenai waktu pelaksanaan Proklamasi. Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa kelompok pemuda ke Rengasdengklok, Karawang. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Setelah melalui perundingan, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Pada malam hingga dini hari, teks Proklamasi dirumuskan di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan didampingi Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan betapa cepat perubahan politik terjadi setelah kekalahan Jepang.


Tugu Proklamasi. (Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons)


Memasuki peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, peristiwa Dalat menjadi salah satu bagian sejarah yang relevan untuk kembali dikenang. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam ruang yang kosong. Di balik pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 terdapat rangkaian peristiwa politik, diplomasi, pergerakan pemuda, hingga perubahan situasi internasional.

Pertemuan Soekarno, Hatta, dan Radjiman dengan Terauchi di Dalat terjadi hanya beberapa hari sebelum rangkaian peristiwa Rengasdengklok dan pembacaan Proklamasi. Dari Dalat, perjalanan sejarah bergerak menuju Jakarta. Dari Jakarta, Proklamasi dikumandangkan. Sejak saat itu, Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka.

*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

(Whisnu M)