Bandung: Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menjadi momentum untuk mengenang kembali perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan.
Jawa Barat memiliki sejumlah tempat bersejarah yang berkaitan dengan pergerakan nasional, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga diplomasi Indonesia pada masa awal republik.
Sejumlah lokasi tersebut kini dapat dikunjungi masyarakat sebagai ruang edukasi sejarah. Jejak perjuangan tidak hanya hadir dalam bentuk monumen, tetapi juga rumah, gedung perundingan, museum, hingga lokasi yang menjadi saksi peristiwa penting.
Berikut sejumlah situs yang dapat menjadi tujuan napak tilas sejarah kemerdekaan di Jawa Barat.
1. Gedung Perundingan Linggarjati, Kuningan
Gedung Perundingan Linggarjati berada di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di kawasan kaki Gunung Ciremai.
Bangunan ini memiliki posisi penting dalam sejarah diplomasi Indonesia pascakemerdekaan. Pada 11–13 November 1946, gedung tersebut menjadi lokasi perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda.
Delegasi Indonesia dipimpin Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sedangkan delegasi Belanda dipimpin Willem Schermerhorn. Perundingan berlangsung dengan mediasi Inggris. Hasil pembicaraan tersebut kemudian dikenal sebagai Perjanjian Linggarjati.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan napak tilas sejarah, lokasi ini memberikan gambaran mengenai jalur diplomasi yang ditempuh Indonesia dalam mempertahankan eksistensi republik setelah proklamasi.
2. Gedung Indonesia Menggugat, Bandung
Tidak jauh dari kawasan pusat Kota Bandung terdapat Gedung Indonesia Menggugat. Bangunan ini memiliki hubungan erat dengan perjalanan perjuangan Soekarno. Gedung tersebut sebelumnya merupakan gedung pengadilan kolonial. Di tempat inilah Soekarno membacakan pembelaannya dalam persidangan pada 1930.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan nasional dan melahirkan naskah pembelaan yang dikenal sebagai Indonesia Menggugat.
Kisah tersebut juga berkaitan dengan Penjara Banceuy. Menurut catatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Soekarno menyusun pledoi Indonesia Menggugat ketika menjalani penahanan di Banceuy pada 1929. Naskah tersebut kemudian dibacakan dalam persidangan di gedung pengadilan yang kini dikenal sebagai Gedung Indonesia Menggugat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini memasukkan Gedung Indonesia Menggugat sebagai salah satu bangunan bersejarah yang dapat dikunjungi masyarakat.
Baca Juga :
Menelusuri Jejak Sejarah Lomba 17 Agustus
3. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera), Bandung
Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat atau Monpera berada di Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung. Monumen tersebut menjadi simbol perjuangan rakyat Jawa Barat dalam mempertahankan kemerdekaan. Bangunan yang diresmikan pada 1995 itu juga memiliki fungsi edukasi melalui museum di bagian bawahnya.
Museum Monpera menyimpan berbagai koleksi terkait perjuangan rakyat Jawa Barat, mulai dari diorama, dokumentasi sejarah, senjata, perlengkapan pejuang, hingga arsip perjuangan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menyediakan layanan kunjungan masyarakat. Berdasarkan informasi layanan yang tersedia, museum tersebut beroperasi Senin–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB dan tutup pada Sabtu, Minggu, serta hari libur nasional. Tarif kunjungan wisatawan nusantara tercatat Rp2.000 untuk anak-anak dan Rp3.000 untuk dewasa.
Lokasi ini dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin mengenal perjalanan perjuangan rakyat Jawa Barat melalui koleksi museum dalam satu kawasan.
4. Monumen Bandung Lautan Api, Bandung
Monumen Bandung Lautan Api menjadi penanda salah satu peristiwa paling dikenal dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Jawa Barat. Peristiwa Bandung Lautan Api berlangsung pada 24 Maret 1946, ketika pejuang dan masyarakat meninggalkan Bandung Selatan setelah membumihanguskan sejumlah bagian kota agar tidak dapat dimanfaatkan pasukan Sekutu dan Belanda.
Arsip Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat dokumentasi peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Salah satu arsip foto menunjukkan kondisi setelah peristiwa tersebut pada 24 Maret 1946.
Monumen tersebut berada di kawasan Taman Tegallega, Kota Bandung. Keberadaannya menjadi pengingat mengenai keputusan besar masyarakat dan pejuang Bandung dalam mempertahankan kemerdekaan.
Bagi wisatawan sejarah, kawasan ini dapat menjadi salah satu titik napak tilas untuk memahami konteks perjuangan rakyat Bandung pada masa awal kemerdekaan.
5. Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok, Karawang
Monumen Kebulatan Tekad berada di Jalan Raya Tugu Proklamasi, Kampung Bojong, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lokasinya berada di kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Monumen tersebut berdiri di lahan bekas Markas Pembela Tanah Air (PETA). Pembangunannya mulai digagas pada 1950 dan dikerjakan pada Juli tahun yang sama. Monumen selesai sekaligus diresmikan pada 17 Agustus 1950, bertepatan dengan peringatan lima tahun kemerdekaan Indonesia.
Keberadaan monumen tidak dapat dipisahkan dari peristiwa ketika kelompok pemuda membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Langkah tersebut dilakukan untuk mendesak kedua tokoh tersebut segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Nama Kebulatan Tekad merepresentasikan semangat perjuangan menuju kemerdekaan. Bentuk monumen juga memiliki sejumlah simbol, termasuk bagian berbentuk bulatan yang menggambarkan kebulatan tekad dalam perjuangan merebut kemerdekaan serta kepalan tangan yang melambangkan tekad mempertahankan kemerdekaan.
Monumen ini juga berada dalam kawasan sejarah Rengasdengklok yang berkaitan dengan Rumah Djiauw Kie Siong, tempat Soekarno-Hatta sempat diamankan oleh kelompok pemuda. Keberadaan sejumlah situs tersebut membuat Rengasdengklok menjadi salah satu lokasi penting untuk menelusuri rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi.