Konferensi di Malino yang dipimpin oleh Van Mook. (Dokumentasi/ Wikipedia)
15 Juli 1946: Saat Australia Menyerahkan Kembali Indonesia Timur ke Belanda
Silvana Febiari • 15 July 2026 10:21
Jakarta: Tanggal 15 Juli 1946 menjadi bagian penting dalam dinamika politik Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada hari itu, Australia menyerahkan kembali wilayah Indonesia Timur kepada Belanda dalam kerangka South East Asia Command (SEAC).
Melansir dari Wikipedia, penyerahan tersebut membuat pemerintah Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) kembali memperoleh kendali atas wilayah Indonesia Timur secara de jure dan de facto.
Setelah menerima kembali wilayah tersebut, pemerintah NICA yang dipimpin Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook mulai menyusun langkah politik terkait masa depan wilayah Indonesia.
Konferensi Malino Bahas Rencana Negara Federal
Setelah mendapatkan kembali kendali atas Indonesia Timur, pemerintah NICA menggelar Konferensi Malino di Malino, Sulawesi Selatan. Konferensi yang berlangsung pada 15 hingga 25 Juli 1946 itu digelar sebagai upaya Belanda membahas rencana pembentukan negara-negara bagian berbentuk federasi di Indonesia.Konferensi tersebut menghadirkan 39 perwakilan dari 15 daerah di Kalimantan dan Indonesia Timur atau De Groote Oost. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kelompok, seperti golongan raja, kelompok Kristen, serta kelompok etnis lain yang mendukung hubungan dengan Belanda.
Dalam pertemuan itu, Belanda membahas rencana pembentukan dua negara bagian, yakni Indonesia Timur dan Kalimantan, sebagai bagian dari konsep federal. Namun, pertemuan tersebut juga menunjukkan adanya dorongan dari sejumlah pihak untuk memperoleh otonomi yang lebih luas.
Pembentukan Komisariat dan Komisi Tujuh
Konferensi Malino yang dipimpin oleh Van Mook menghasilkan pembentukan Komisariat Umum Pemerintah (Algemeene Regeeringscommissaris) untuk wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur. Lembaga tersebut dipimpin oleh Dr. W. Hoven.Selain itu, dibentuk pula "Komisi Tujuh" yang beranggotakan perwakilan dari sejumlah wilayah. Anggotanya terdiri atas Sukawati dari Bali, Najamuddin dari Sulawesi Selatan, Dengah dari Minahasa, Tahya dari Maluku Selatan, Dr. Liem Tjae Le dari Bangka, Belitung, Riau, Ibrahim Sedar dari Kalimantan Selatan, dan Oeray Saleh dari Kalimantan Barat.

Peta abad ke-17. (Dokumentasi/ Wikipedia)
Langkah Awal Pembentukan Negara Bagian
Rencana pembentukan negara-negara bagian tersebut kemudian akan dibahas dalam konferensi lanjutan di Denpasar, Bali. Sebelum itu, Belanda juga merencanakan pertemuan dengan perwakilan kelompok minoritas di Pangkal Pinang, Pulau Bangka.Penyerahan wilayah Indonesia Timur kepada Belanda dan pelaksanaan Konferensi Malino menjadi bagian dari rangkaian upaya Belanda mengatur kembali struktur pemerintahan Indonesia setelah Perang Dunia II. Di sisi lain, bangsa Indonesia saat itu masih terus memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan yang telah diproklamasikan.