Proses penandatanganan Perjanjian Linggarjati. Dokumentasi/ Indonesia Nederland Society
25 Maret 1947: Saat Belanda Akui Jawa, Sumatra, dan Madura Lewat Perjanjian Linggarjati
Silvana Febiari • 25 March 2026 10:52
Jakarta: Pada 25 Maret 1947, Perjanjian Linggarjati secara resmi ditandatangani di Istana Merdeka, Jakarta. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia karena menandai pengakuan de facto Belanda atas kedaulatan Republik Indonesia, khususnya di wilayah Jawa, Sumatra, dan Madura.
Mengutip dari laman resmi Indonesia Nederland Society, Linggarjati bukan hanya nama sebuah desa kecil di lereng Gunung Ciremai, Jawa Barat, tetapi juga menjadi simbol diplomasi penting antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian ini sebelumnya dicapai pada 12 November 1946, sebelum akhirnya disahkan secara resmi beberapa bulan kemudian di Batavia (Jakarta).
Latar Belakang dan Awal Negosiasi
Setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia II, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Namun, situasi pasca-kemerdekaan diwarnai konflik dan kekerasan, termasuk periode Bersiap yang membuat Belanda kesulitan mengembalikan kekuasaannya di wilayah Indonesia.Menyadari kondisi tersebut, Belanda mulai membuka jalur diplomasi pada Oktober 1946. Di bawah tekanan Inggris, pemerintah Belanda akhirnya bersedia berunding dengan Republik Indonesia, meski sebelumnya enggan mengakui kepemimpinan Soekarno.
Proses Perundingan dan Isi Kesepakatan
Perundingan dilakukan antara delegasi Belanda dan Indonesia di Linggarjati, dengan melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, dan perwakilan Belanda yang dipimpin oleh Wim Schermerhorn serta Letnan Gubernur Jenderal HJ van Mook. Negosiasi berlangsung panjang dan penuh perdebatan mengenai masa depan hubungan kedua pihak.Hasil kompromi menyepakati pembentukan negara federal bernama Amerika Serikat Indonesia yang direncanakan berdiri pada 1 Januari 1949. Dalam kesepakatan tersebut, Belanda mengakui Republik Indonesia sebagai penguasa de facto atas Jawa, Sumatra, dan Madura, serta membentuk Uni Belanda-Indonesia yang berfokus pada kerja sama ekonomi dan budaya.

Perjanjian Linggarjati. Dokumentasi/ Indonesia Nederland Society
Pro dan Kontra di Kedua Pihak
Kesepakatan ini tidak sepenuhnya diterima dengan mudah. Di Belanda, kelompok konservatif menilai perjanjian tersebut terlalu menguntungkan Indonesia. Pemerintah Belanda bahkan menafsirkan ulang isi perjanjian untuk mempertahankan pengaruhnya di masa depan.Sementara di Indonesia, perjanjian ini juga mendapat penolakan dari kelompok radikal, termasuk sebagian kalangan militer yang menginginkan kemerdekaan penuh tanpa kompromi. Meski demikian, Soekarno berhasil meyakinkan parlemen bahwa Linggarjati adalah langkah awal menuju kemerdekaan sepenuhnya.

Wim Schermerhorn dan Sutan Sjahrir mencapai kesepakatan. Dokumentasi/ Indonesia Nederland Society
Perbedaan Tafsir dan Pecahnya Konflik
Meskipun telah ditandatangani, kedua pihak memiliki penafsiran berbeda terhadap isi perjanjian. Belanda memandang Indonesia hanya sebagai bagian kecil dalam struktur federal, sedangkan Indonesia menginginkan kedaulatan penuh dengan peran dominan dalam negara tersebut.Perbedaan ini akhirnya memicu ketegangan yang berujung pada aksi militer Belanda pada Juli 1947. Konflik bersenjata pun kembali terjadi, menunjukkan bahwa kesepakatan Linggarjati belum mampu menyelesaikan sengketa secara menyeluruh.
Dampak dan Akhir Perjuangan Diplomasi
Konflik antara Indonesia dan Belanda terus berlanjut hingga menarik perhatian dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian turun tangan melalui Komite Jasa Baik yang menghasilkan Perjanjian Renville pada 1948.Pada akhirnya, tekanan internasional dan kegagalan militer membuat Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949. Meskipun sempat berbentuk negara federal, Indonesia kemudian kembali menjadi negara kesatuan dan mengakhiri hubungan simbolis dengan Belanda pada 1954.