9 Negara dengan Pekerja Paling Stres di ASEAN, Indonesia Nomor Berapa?

Bendera beberapa negara-negara ASEAN. (Pexels)

9 Negara dengan Pekerja Paling Stres di ASEAN, Indonesia Nomor Berapa?

Riza Aslam Khaeron • 3 June 2026 14:38

Jakarta: Stres di tempat kerja merupakan hal yang dialami sebagian besar pekerja. Ketika mayoritas pekerja di suatu negara terus-menerus merasa tertekan secara emosional dalam kesehariannya, dampaknya bisa meluas mulai dari penurunan produktivitas nasional, rendahnya keterikatan karyawan (employee engagement), hingga merosotnya kesejahteraan sosial secara keseluruhan.

Untuk memotret dinamika ini secara global, lembaga riset Gallup merilis laporan tahunan State of the Global Workplace. Edisi terbaru yang terbit pada April 2026 merangkum data komprehensif yang dikumpulkan sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Survei ini melibatkan 263.810 responden global secara tatap muka maupun telepon, di mana 141.444 responden di antaranya merupakan pekerja aktif, termasuk mereka yang berada di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Tingkat stres dalam laporan ini diukur melalui indikator Daily Stress, yang menjaring jawaban apakah responden merasakan stres yang intens "dalam sebagian besar waktu pada hari sebelum wawancara dilakukan".

Menariknya, meskipun kawasan ASEAN secara kolektif mencatat rata-rata stres pekerja sebesar 25 persen — angka yang jauh lebih rendah dibanding rata-rata global sebesar 40 persen — jurang perbedaan antarnegara di Asia Tenggara sendiri sebenarnya sangat lebar.

Di satu sisi ada negara yang tingkat stres pekerjanya melampaui rata-rata dunia, namun di sisi lain ada juga yang pekerjanya nyaris tidak merasakan tekanan tersebut.

Berikut adalah ulasan lengkap peringkat 9 negara ASEAN berdasarkan tingkat stres pekerja versi Gallup 2026:

1. Filipina — 50%

Filipina menempati posisi puncak sebagai negara dengan pekerja paling tertekan di Asia Tenggara. Gallup mencatat bahwa 50 persen pekerja di Filipina merasakan stres yang berat hampir sepanjang hari. Angka ini tidak hanya menyentuh dua kali lipat dari rata-rata regional ASEAN (25%), tetapi juga melangkahi rata-rata global yang berada di angka 40 persen.

Uniknya, kondisi ini berjalan beriringan dengan tingkat keterikatan kerja (employee engagement) yang tergolong tinggi di kawasan, yakni mencapai 39 persen
.
Artinya, tingkat stres yang tinggi tidak serta-merta menunjukkan pekerja tidak memiliki rasa cinta untuk pekerjaan mereka.
 

2. Myanmar — 47%

Berada di urutan kedua, Myanmar mencatat 47 persen pekerja yang melaporkan stres harian dalam level tinggi. Kondisi ini terasa kian memprihatinkan karena hanya 12 persen pekerja di Myanmar yang merasa hidup mereka berkembang dengan baik (thriving).

Himpitan emosional pekerja di Myanmar pun kian berlapis dengan tingginya tingkat kemarahan yang mencapai 32 persen serta kesedihan di angka 30 persen — keduanya menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Data ini menggambarkan beban emosional pekerja Myanmar yang tergolong paling berat di ASEAN.
 

3. Singapura — 43%

Singapura mengamankan posisi ketiga dengan 43 persen pekerja yang didera stres harian. Tingkat stres di negara kota ini konsisten melampaui rata-rata global dan tidak mengalami perubahan dari rata-rata tiga tahun sebelumnya. Stabilnya angka ini mengindikasikan bahwa kultur kerja bertekanan tinggi telah menjadi realitas yang mengakar kuat di Singapura.

Namun, di balik tingginya tekanan tersebut, sebanyak 40 persen pekerja Singapura mengklaim hidup mereka berada dalam kategori berkembang (thriving), melampaui rata-rata kawasan ASEAN (36%).

Dengan kata lain, kesejahteraan hidup secara umum relatif baik, tetapi tekanan harian yang dirasakan pekerja tetap tinggi.
 

4. Kamboja — 34%

Kamboja berada di peringkat keempat dengan tingkat stres pekerja sebesar 34 persen. Meski persentase ini masih berada di bawah rata-rata global, angka tersebut tetap berada di atas rata-rata kawasan ASEAN. Kabar baiknya, tingkat stres di Kamboja tercatat mengalami penurunan sebesar lima poin dibanding rata-rata tiga tahun sebelumnya.

Sayangnya, penurunan tingkat stres ini belum serta-merta mendongkrak kualitas hidup mereka secara menyeluruh. Hal ini terlihat dari minimnya jumlah pekerja Kamboja yang masuk dalam kategori thriving, yaitu hanya sebesar 16 persen.


Ilustrasi: Kampus Production/Pexels

5. Laos — 26%

Laos menduduki posisi kelima dengan 26 persen pekerja yang mengaku mengalami stres harian. Angka ini hanya terpaut satu poin di atas rata-rata ASEAN dan menunjukkan tren positif berupa penurunan sebesar empat poin dari rata-rata tiga tahun ke belakang.

Kendati indikator stresnya tampak melandai, Laos menyimpan catatan emosional lain. Tingkat kemarahan dan kesedihan pekerja di Laos masing-masing bertengger di angka 28 persen, jauh melebihi rata-rata kawasan.
 

6. Thailand — 25%

Thailand berada di posisi keenam dengan tingkat stres pekerja sebesar 25 persen, tepat di titik tengah rata-rata regional ASEAN. Gallup mencatat stabilitas yang sangat konsisten di negara ini, di mana angkanya sama sekali tidak bergeser dari rata-rata tiga tahun sebelumnya.

Di luar faktor stres yang stabil, profil pekerja Thailand justru menunjukkan aspek kesejahteraan hidup. Sebanyak 41 persen pekerja di sana merasa hidup mereka berkembang pesat (thriving), ditambah dengan rendahnya persentase kemarahan dan kesedihan harian.
 

7. Malaysia — 20%

Malaysia menempati peringkat ketujuh dengan hanya 20 persen pekerja yang mengeluhkan stres harian — hanya setengah dari rata-rata global. Walaupun ada kenaikan tipis sebesar satu poin dari rata-rata tiga tahun lalu, kondisi kesehatan mental dunia kerja di Malaysia secara umum masih terbilang sangat kondusif.

Kondisi emosional yang stabil ini juga didukung oleh data bahwa 34 persen pekerjanya merasa hidup mereka berada di level thriving (setara dengan rata-rata global).
Sementara itu, indikator emosi negatif seperti kemarahan (16%) dan kesedihan (15%) juga tergolong cukup rendah.
 
Baca Juga:
Daftar 10 Kota Terpadat di Dunia, Jakarta Termasuk?
 

8. Indonesia — 14%

Indonesia berada di peringkat kedelapan dengan tingkat stres pekerja yang sangat rendah, yaitu hanya 14 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata global maupun regional, bahkan mengalami penurunan satu poin jika dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya.

Meski tingkat stresnya rendah, Indonesia mencatat 27 persen pekerja mengalami kesedihan dalam sebagian besar waktu. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata Asia Tenggara sebesar 21 persen dan rata-rata global sebesar 23 persen. Dengan demikian, rendahnya stres tidak selalu berarti seluruh indikator emosi negatif berada di posisi rendah.
 

9. Vietnam — 13%

Vietnam menutup daftar ini sebagai negara dengan tingkat stres pekerja paling rendah sekaligus paling ideal di kawasan ASEAN. Gallup mendokumentasikan bahwa hanya 13 persen pekerja di Vietnam yang merasakan stres harian dalam aktivitas mereka.

Vietnam juga menonjol pada indikator kesejahteraan hidup. Sebanyak 59 persen pekerja Vietnam masuk kategori thriving, jauh di atas rata-rata Asia Tenggara 36 persen dan global 34 persen. Selain itu, indikator kemarahan dan kesedihan masing-masing hanya 5 persen dan 6 persen, menjadikannya salah satu profil pekerja paling rendah emosi negatif dalam data kawasan Gallup

Laporan Gallup kali ini merangkum data dari sembilan negara di Asia Tenggara, yaitu Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sementara itu, Brunei Darussalam dan Timor-Leste tidak diikutsertakan dalam survei ini sehingga tidak masuk ke dalam daftar pemeringkatan.

(Arga Sumantri)