Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.515/USD

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.515/USD

Eko Nordiansyah • 13 May 2026 09:15

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah berbalik arah meski dolar AS menguat di tengah kenaikan permintaan aset aman.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 13 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.515,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 13 poin atau setara 0,07 persen dari Rp17.529 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.509 per USD. Rupiah masih bergerak melemah dari Rp17.410 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.

Baca Juga :

 

Dolar AS Menguat Lagi

 


(Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani)

Rupiah tertekan faktor eksternal dan domestik

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah untuk perdagangan hari ini akan fluktuatif namun ditutup melemah. Mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp17.520 hingga Rp17.580 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah masih akan berada dalam kondisi yang tidak menentu. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia.

Dari eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. Negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dinilai masih rapuh setelah muncul berbagai perbedaan tuntutan di kedua belah pihak.

“Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok,” jelas Ibrahim.

Dari faktor domestik, kondisi ekonomi diperberat oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 yang merupakan kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir. Hal ini dipicu oleh rendahnya permintaan pasca-liburan serta gangguan pada rantai pasok global.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global yang dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)