WNI relawan GSF, Heru, saat berbicara kepada awak media di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu, 24 Mei 2026. (Metrotvnews.com)
WNI Relawan GSF Mengaku Disetrum dan Diinjak di 'Bilik Eksekusi' Israel
Dimas Chairullah • 24 May 2026 18:53
Jakarta: Seorang warga negara Indonesia (WNI) relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Heru, menceritakan kekerasan fisik dan tekanan mental yang dialaminya selama ditahan aparat Israel.
Heru, yang juga berprofesi sebagai jurnalis, mengatakan dirinya mengalami perlakuan keras selama dua hari tiga malam masa penahanan usai armada bantuan GSF yang berlayar menuju Jalur Gaza dicegat di perairan internasional.
Kesaksian tersebut disampaikannya setibanya di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026.
“Setiap mereka melakukan sesuatu, mereka melempari kita granat kejut yang cukup keras. Pada saat kita dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, kita harus nunduk dan tidak boleh angkat kepala sedikit pun. Angkat kepala sedikit, kita ditendang dan dipukul,” ujar Heru kepada awak media di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu, 24 Mei 2026.
Menurut Heru, tekanan fisik dan mental dimulai sejak para relawan masih berada di atas kapal hingga dipindahkan ke fasilitas penahanan di daratan.
Ia juga menceritakan bahwa para tahanan beberapa kali dibawa ke sebuah ruangan khusus yang ia sebut sebagai “bilik eksekusi." Di sana, lanjut Heru, pasukan Israel melakukan pemukulan terhadap para tahanan saat proses pemindahan.
“Saya sempat jatuh dan diinjak. Dan saya sempat disetrum juga beberapa kali di bagian badan, kaki, dan punggung saya,” ungjkap Heru.
Relawan lain, Herman Budianto, mengatakan bahwa para peserta dari berbagai negara mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental selama empat hari masa penahanan.
“Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh Tentara Israel itu nyata. Sangat keji, sangat brutal,” tutur Herman.
Menurut penuturan Herman, sejumlah relawan dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, mengalami cedera serius akibat dugaan penganiayaan. Ia menyebut sekitar 40 orang mengalami patah tulang rusuk, patah tangan, patah kaki, hingga patah hidung.
Ia juga mengklaim terjadi dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah relawan, baik laki-laki maupun perempuan.
Baca juga: Kesaksian Pilu Relawan WNI: Patah Tulang hingga Pelecehan di Penjara Israel