Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat, Subdit Keamanan dan Keselamatan, Ditlantas Polda Metro Jaya Sri Indira Purnamawati (kedua dari kiri) dan Ketua Yayasan AHM Ahmad Muhibbuddin (ketiga dari kiri). Dok. Istimewa
Hindari Risiko Kecelakaan, Anak Muda Diminta Bangun Kebiasaan Berkendara dengan Aman
Achmad Zulfikar Fazli • 10 September 2026 20:22
Jakarta: Keselamatan berkendara masih menjadi persoalan yang dianggap remeh masyarakat di tengah tingginya penggunaan sepeda motor sebagai moda transportasi sehari-hari. Risiko kecelakaan masih besar, terutama karena perilaku pengendara menjadi salah satu faktor yang menentukan keselamatan di jalan.
Korlantas Polri mencatat sepeda motor mendominasi kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas. Pada 2024, tercatat lebih dari 200 ribu sepeda motor terlibat kecelakaan.
Korlantas juga mencatat lebih dari 152 ribu kecelakaan lalu lintas sepanjang 2024 dengan korban meninggal dunia mencapai lebih dari 27 ribu orang. Artinya, rata-rata terdapat korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas hampir setiap jam.
Risiko tersebut menjadi semakin relevan bagi kelompok usia produktif. Data yang sama juga mencatat bahwa kelompok usia 6–25 tahun (pelajar/mahasiswa) menyumbang porsi kecelakaan tertinggi, yakni 39,48 persen, sedikit di atas kelompok usia produktif 25–55 tahun (39,26 persen).
Oleh karena itu, membangun kebiasaan berkendara yang aman perlu dilakukan sejak dini. Edukasi keselamatan juga perlu disampaikan melalui pendekatan yang lekat dengan keseharian generasi muda agar pesan yang disampaikan tidak terhenti sebagai pengetahuan, namun juga diterapkan saat berkendara di jalan.
Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat, Subdit Keamanan dan Keselamatan, Ditlantas Polda Metro Jaya Sri Indira Purnamawati mengatakan kecelakaan lalu lintas kerap diawali perilaku berisiko yang sebenarnya dapat dicegah.
“Misalnya, kita harus pakai helm. Merasa tidak keren menggunakan helm, karena ribet, karena terlalu dekat, merasa tidak akan kecelakaan. Ternyata kemudian terjadi kecelakaan,” ujar Sri Indira dalam acara Safety Riding Short Movie Contest 2026 di Jakarta, dikutip pada Kamis, 10 September 2026.
Menurut dia, penggunaan helm, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, serta menghindari perilaku seperti berkendara dengan kecepatan tinggi dan menggunakan ponsel saat berkendara merupakan bagian penting dari keselamatan di jalan.
Penegakan hukum, lanjut Sri Indira, perlu berjalan beriringan dengan edukasi yang dilakukan masif dan berkelanjutan. Dengan begitu, kesadaran mengenai keselamatan dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam berkendara.
Kemas Pesan Keselamatan Lewat Kreativitas
Upaya membangun budaya keselamatan berkendara juga dilakukan Yayasan Astra Honda Motor (Yayasan AHM) melalui kampanye Safety Riding bertajuk Stay Alive for The Next Chapter yang berkolaborasi dengan Katadata.
Kampanye tersebut menyasar generasi muda, khususnya Gen Z, dengan memanfaatkan medium digital dan media sosial. Pesan mengenai keselamatan berkendara dikemas melalui cerita dan kreativitas agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketua Yayasan AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan membangun budaya keselamatan berkendara membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan proses yang berkelanjutan.
“Karena membangun budaya itu bukan sebuah usaha yang gampang, harus melibatkan banyak pihak. Dan harus dilakukan secara berkesinambungan, secara berkelanjutan. Program ini menjadi penting bagi kita semua untuk menyadari hal-hal yang membahayakan selama berkendara di jalan,” ujar Ahmad.
Salah satu bentuk kampanye tersebut diwujudkan melalui Safety Riding Short Movie Contest 2026. Kompetisi ini terdiri atas dua kategori, yakni Short Movie Contest dan Social Media Challenge.
Peserta diajak menyampaikan pesan keselamatan berkendara melalui karya yang kreatif, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Selama periode pendaftaran Mei-Juli 2026, kampanye tersebut menghimpun 340 karya. Sebanyak 200 karya masuk dalam kategori Short Movie Contest, sedangkan 140 karya lainnya berasal dari Social Media Challenge.
Sebanyak 340 karya yang tersebar di kanal instagram, TikTok, dan YouTube itu berhasil menjangkau lebih dar 1,7 juta penonton.
Ahmad mengatakan pemanfaatan medium kreatif dan media sosial diharapkan dapat memperluas jangkauan pesan keselamatan berkendara.
“Dalam kampanye ini kami merancang short movie contest melalui kanal media sosial untuk memperluas jangkauan pesan, sehingga semakin banyak masyarakat yang mengetahui pentingnya keselamatan berkendara,” ujar Ahmad.

Ketua Yayasan AHM Ahmad Muhibbuddin. Dok. Istimewa
Rangkaian program ditutup dengan pengumuman pemenang Stay Alive for The Next Chapter yang digelar di Kampus Universitas Negeri Jakarta pada 9 September 2026.
Kegiatan tersebut juga diisi awarding, talkshow mengenai keselamatan berkendara dan kreativitas konten, serta Safety Riding Activity yang memberikan pengalaman edukasi dan praktik langsung kepada peserta.
Salah satu pemenang Short Movie Contest kategori umum, Fahri asal Depok, mengangkat persoalan penggunaan ponsel saat berkendara dalam karyanya.
“Berangkat dari keresahan tersebut saya mencoba menyuarakannya lewat visual, sehingga pesan disampaikan secara tersirat tapi tetap dikemas secara relevan,” ujar Fahri.
Sementara itu, kategori mahasiswa dimenangkan Iqbal Bahi asal Universitas Siber Asia, DKI Jakarta, melalui film pendek berjudul Pulang dengan Selamat.
“Bagi saya, kemenangan ini menjadi pengalaman yang sangat berarti, bukan hanya karena berhasil meraih juara, tetapi karena melalui karya ini saya bisa menyampaikan pesan keselamatan berkendara dengan cara yang dekat dengan kehidupan anak muda,” ungkap Iqbal.
Membentuk Kebiasaan dari Lingkungan Pendidikan
Selain melalui media digital, edukasi keselamatan berkendara dinilai perlu diperkuat melalui lingkungan pendidikan. Kampus dapat menjadi ruang untuk membentuk kebiasaan mahasiswa, termasuk dalam menerapkan perilaku aman saat berkendara.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hadi Nasbey mengatakan edukasi keselamatan perlu diarahkan untuk membentuk kebiasaan, bukan sekadar memberikan pemahaman mengenai perilaku yang benar dan salah.
“Kampus perlu membentuk kebiasaan yang berpihak pada keamanan, sehingga aman buat kita dan untuk orang lain juga,” ujar Hadi.
Kolaborasi antara Yayasan AHM dan Katadata melalui kampanye Stay Alive for The Next Chapter menjadi salah satu upaya membawa pesan keselamatan berkendara lebih dekat dengan generasi muda.
Pendekatan melalui film pendek dan media sosial membuat pesan safety riding dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Di sisi lain, keterlibatan lingkungan pendidikan dapat membantu menjadikan keselamatan sebagai bagian dari kebiasaan.