Rupiah Pagi Dibuka ke Rp16.797 per USD

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Pagi Dibuka ke Rp16.797 per USD

Eko Nordiansyah • 5 February 2026 09:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tak kuasa menahan penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 5 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.797 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 20 poin atau setara 0,12 persen dari Rp16.777 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.795 per USD. Mata uang Garuda masih bergerak datar dibandingkan pada perdagangan sebelumnya.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah diprediksi melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpeluang ditutup melemah pada hari ini. Mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS. 

Ibrahim menjelaskan, tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan moneter AS. Sentimen negatif menguat setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Situasi geopolitik semakin kompleks setelah Iran meminta agar pembicaraan dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini digelar di Oman, bukan Turki. Iran juga membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir, sehingga menambah ketidakpastian di pasar global.

Penguatan dolar AS juga didukung oleh data ekonomi AS yang solid. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index PMI Manufaktur Institute for Supply Management ISM melonjak ke level 52,6 pada Januari 2026, dari 47,9 pada Desember 2025, jauh melampaui ekspektasi pasar. Sementara PMI Manufaktur Global S&P juga naik menjadi 52,4 dari sebelumnya 51,9.

Data ekonomi yang kuat tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, masih memiliki ruang untuk bersikap hati-hati sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Pasar pun menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari 2026.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni 2026 saat ini diperkirakan berada di kisaran 66 persen. Kondisi ini membuat dolar AS tetap berada di level kuat dan memberi tekanan tambahan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)