Fasilitas kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi. Foto: Vantor/The New York Times
Israel Coba Adu Domba Negara Teluk Lewat Serangan Fasilitas Energi
Muhammad Reyhansyah • 6 March 2026 20:21
Teheran: Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu menewaskan sejumlah tokoh kunci negara itu, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons dengan menyerang sejumlah aset militer AS dan Israel di kawasan.
Namun di tengah meningkatnya ketegangan, Teheran menuduh Israel mencoba mengadu domba Iran dengan negara-negara Teluk melalui serangkaian serangan terhadap fasilitas energi dan target strategis di kawasan.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Israel berada di balik beberapa serangan yang menargetkan fasilitas di Arab Saudi serta setidaknya satu serangan di Oman. Menurutnya, tuduhan bahwa Iran berada di balik seluruh serangan tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa beberapa serangan itu bukan dilakukan oleh kami (Iran),” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip TRT World.
Pelabuhan Duqm merupakan pusat logistik utama di kawasan dan sejak 2019 menjadi salah satu lokasi yang memberi akses bagi angkatan laut Amerika Serikat. Serangan terhadap fasilitas tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Teluk.
Iran Bantah Serang Fasilitas Energi
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kebijakan Iran sejak awal adalah menyerang pangkalan militer yang digunakan untuk melancarkan operasi terhadap Iran.“Sejak awal kami sudah menyatakan bahwa jika ada pangkalan militer di kawasan ini yang digunakan untuk menyerang Iran, maka kami akan menargetkannya. Itulah kebijakan kami,” ujar Gharibabadi dalam wawancara dengan AnewZ.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul laporan serangan drone terhadap Bandara Internasional Nakhchivan pada Kamis, 5 Maret 2026. Kementerian Luar Negeri Azerbaijan menyatakan dua warga sipil terluka setelah satu drone menghantam gedung terminal bandara dan satu lainnya jatuh di dekat sebuah sekolah di desa Shakarabad.
Menyusul insiden tersebut, Duta Besar Iran untuk Baku Mojtaba Damirchilou dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri Azerbaijan untuk menerima nota protes resmi terkait serangan tersebut.
Sementara itu, sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya mengklaim bahwa salah satu serangan besar di kawasan, yakni terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco pada Selasa pagi, 3 Maret 2026, merupakan operasi “false flag” yang dilakukan Israel.
Dalam keterangan kepada kantor berita Tasnim News Agency, sumber tersebut mengatakan serangan itu bertujuan mengalihkan perhatian negara-negara kawasan dari serangan Israel terhadap sejumlah lokasi sipil di Iran.
“Serangan terhadap fasilitas Aramco adalah operasi false flag Israel. Tujuan mereka adalah mengalihkan perhatian negara-negara kawasan dari kejahatan yang mereka lakukan dengan menyerang lokasi sipil di Iran,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan bahwa Iran sebelumnya telah secara terbuka menyatakan akan menargetkan kepentingan dan fasilitas milik Amerika Serikat serta Israel di kawasan, tetapi fasilitas energi Saudi tidak termasuk dalam daftar target tersebut.
“Iran secara terang-terangan menyatakan akan menargetkan semua kepentingan Amerika dan Israel di kawasan, dan sejauh ini telah menyerang banyak di antaranya. Namun fasilitas Aramco tidak termasuk di antara target serangan Iran,” katanya.
Menurut sumber tersebut, data intelijen yang diperoleh Iran juga menunjukkan kemungkinan target berikutnya dalam operasi serupa adalah Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab.
“Menurut data yang diberikan oleh sumber intelijen kepada kami, pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab juga menjadi salah satu target berikutnya dalam operasi false flag Israel, dan rezim ini berniat menyerangnya,” ujar sumber tersebut.
Dugaan Operasi Rahasia Mossad
Dua sumber Iran lainnya juga mengatakan kepada Middle East Eye bahwa badan intelijen Israel, Mossad, diduga berada di balik sejumlah serangan tersebut melalui jaringan agen dan logistik yang telah lama dibangun di wilayah Iran.Menurut mereka, otoritas Iran saat ini sedang melacak sejumlah gudang yang diduga digunakan Mossad untuk menyimpan drone.
“Kami tidak akan terkejut jika gudang dan ruang operasi seperti itu juga ada di negara-negara lain di kawasan,” kata salah satu sumber tersebut.
Sumber lain mengatakan Teheran telah menyampaikan secara pribadi kepada Arab Saudi bahwa Iran tidak bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Ras Tanura milik Saudi Aramco.
“Ini adalah upaya Israel untuk merusak perdamaian regional dan aliansi antarnegara tetangga,” ujar sumber tersebut.
Ketegangan Kawasan Teluk Meningkat
Tuduhan Iran muncul saat negara-negara Teluk juga menghadapi tekanan dari Washington untuk mendukung kampanye melawan Teheran.Dalam pertemuan virtual para menteri luar negeri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), para pejabat dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap serangan Iran untuk menjaga keamanan kawasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berupaya menenangkan negara-negara tetangga dengan menegaskan bahwa Iran menghormati kedaulatan mereka dan bertindak semata-mata untuk membela diri.
“Kami telah berusaha bersama Anda melalui diplomasi untuk menghindari perang, tetapi agresi militer Amerika–Zionis tidak memberi kami pilihan selain membela diri,” kata Pezeshkian.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut karena berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan menguras sumber daya semua pihak.