Inovasi alat pendeteksi untuk mitigasi banjir yang dibuat warga Pondok Labu, Cilandak, Jaksel. Foto: Antara.
Warga Pondok Labu Kenalkan Inovasi Alat Pendeteksi Mitigasi Banjir
Anggi Tondi Martaon • 18 July 2026 18:47
Jakarta: Salah satu warga Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, mengenalkan inovasi alat pendeteksi banjir atau Smart Flood Warning System. Alat tersebut berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi warga.
Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom, menjelaskan gagasan itu berasal dari salah satu anggota Karang Taruna di RT 02 RW 10, bernama Azzuhri, yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) BPBD. "Setelah mengikuti diklat BPBD, beliau memiliki gagasan membuat alat pendeteksi banjir karena juga tinggal di lokasi yang rawan banjir," kata Vernier dikutip dari Antara, Sabtu, 18 Juli 2026.
Vernier mengatakan Pondok Labu menjadi salah satu wilayah yang cukup rentan terhadap banjir. Banjir terparah di wilayah itu terjadi pada 2020 lalu yang mencapai hampir dua meter.
Letaknya yang diapit Kali Grogol dan Kali Krukut membuat sejumlah permukiman di Pondok Labu kerap terdampak ketika debit air meningkat. Tercatat warga terdampak banjir di Pondok Labu yakni sebanyak 158 KK di RT 01 RW 10 dengan 540 warga, sedangkan RT 02 RW 10 ada 120 KK dengan 386 warga.
Lokasi tersebut dipilih karena merupakan kawasan yang paling sering terdampak luapan Kali Grogol, sekaligus menjadi tempat tinggal penggagas inovasi tersebut.
Ke depan, pihak kelurahan berencana memperluas pemasangan alat serupa di titik-titik rawan banjir lainnya. Hal itu dilakukan melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Warga Pondok Labu sebagai inisiator alat pendeteksi banjir, Muhammad Azzuhri Ramdhani, 23, menambahkan gagasan itu dicetuskan usai mengikuti pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan BPBD. Alat tersebut baru pertama kali diterapkan di Jakarta.
"Idenya itu memang kami berangkat dari teman-teman Karang Taruna yang memiliki berbagai macam potensi pengetahuan teknologi. Dan memang setelah diklat, kami sudah merancang untuk alat ini terpasang di RT 02 sebagai contoh utama di wilayah Kelurahan Pondok Labu," kata Zuhri.

Ilustrasi banjir. Foto: Medcom.id.
Zuhri menceritakan sebelum alat dipasang, penyampaian informasi mengenai banjir masih dilakukan secara manual. Seperti menggunakan kentongan, pengeras suara masjid, atau memukul tiang listrik.
Cara ini terbilang kurang efektif. Terutama ketika hujan turun pada malam hari.
Maka itu, pemuda lulusan sarjana ekonomi manajemen di Universitas Nasional itu menggunakan sejumlah komponen dari barang bekas milik warga untuk membuat alat pendeteksi banjir tersebut.
Menurutnya, tinggi genangan di kawasan tersebut sangat bergantung pada intensitas hujan. Hujan deras selama sekitar 30 menit saja dapat menyebabkan banjir setinggi 50 sentimeter.
"Alat ini dibuat supaya masyarakat mendapatkan informasi lebih awal. Karena banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," ungkap Zuhri.
Instalasi pertama di RT 02 dibangun secara swadaya dengan memanfaatkan kas RT, dukungan warga, serta bantuan Karang Taruna pada akhir 2024, sedangkan di RT 01 difasilitasi oleh CSR.