Komunikasi Terputus Akibat Banjir Bandang Nepal, Korban Tewas Naik Jadi 362 Orang

Wilayah tertutup lumpur usai banjir bandang di Nepal. Foto: Anadolu

Komunikasi Terputus Akibat Banjir Bandang Nepal, Korban Tewas Naik Jadi 362 Orang

Fajar Nugraha • 28 August 2026 06:04

Kathmandu: Operasi pencarian dan penyelamatan yang didukung oleh helikopter dan pesawat nirawak terus berlanjut pada Kamis 27 Agustus 2026, usai banjir bandang yang melanda Nepal.

Gerak cepat diambil seiring meningkatnya jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di sepanjang perbatasan Nepal-Tiongkok menjadi 362 orang, dengan lebih dari 1.300 orang hilang dan jaringan komunikasi terputus.

Kepolisian Nepal mengonfirmasi 359 kematian dan menyatakan bahwa 826 orang hilang, termasuk wisatawan, warga negara asing, pejabat sipil, tentara, polisi, dan penduduk setempat, seperti dilaporkan oleh Kathmandu Post.

Perdana Menteri Nepal, Balen Shah juga mengunjungi Bidur di distrik Nuwakot untuk meninjau wilayah-wilayah yang terdampak.

Menurut Dewan Pariwisata Nepal, lebih dari 650 wisatawan asing dan lokal dilaporkan hilang di wilayah perbatasan sisi Nepal. Mereka yang hilang mencakup 65 orang dari AS, 53 dari Ukraina, 51 dari Malaysia, 35 dari Australia, 33 dari Inggris, 25 dari Kanada, masing-masing sembilan orang dari Singapura dan Korea Selatan, serta delapan orang dari Jerman.

Pemerintah India pada hari Kamis menyatakan bahwa 288 warga negaranya masih "tidak dapat dihubungi" di wilayah Nepal pascabencana alam tersebut.

Otoritas di Beijing mengonfirmasi tiga kematian dan menyatakan bahwa 558 orang masih hilang di Tibet, wilayah yang oleh Beijing disebut sebagai Daerah Otonom Xizang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, mengatakan bahwa 260 warga negara asing termasuk di antara mereka yang hilang. Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga menyatakan bahwa 100 warga negara Tiongkok hilang di wilayah perbatasan sisi Nepal akibat banjir bandang tersebut.

Komunikasi terputus

Pemerintah Nepal menetapkan Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading sebagai "wilayah krisis bencana" selama tiga bulan. Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana meminta operator helikopter dan pesawat nirawak untuk mengoordinasikan upaya penyelamatan dengan pemerintah distrik, badan keamanan, dan pemerintah daerah setempat.

Pihak berwenang juga mengimbau penduduk yang terjebak untuk menyalakan api dan membuat asap sebagai tanda lokasi keberadaan mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengatakan kepada wartawan bahwa di antara warga India yang hilang terdapat 73 orang yang bekerja pada Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli-1.

"Jalur komunikasi di wilayah tersebut terputus total, sehingga sulit untuk menghubungi orang-orang yang berada di lokasi kejadian," ujar Jaiswal.

Pengerahan tentara dan helikopter

Berdasarkan citra satelit, banjir tersebut kemungkinan dipicu oleh runtuhnya bongkahan es besar dari gletser Himalaya yang terletak sekitar 20 kilometer di timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi.

Runtuhan tersebut menyebabkan berton-ton es dan batu jatuh ke Sungai Bhotekoshi yang berada di bawahnya.

Pemerintah Nepal menyatakan sedang memindahkan warga yang terdampak dan mengerahkan angkatan darat serta operator helikopter swasta untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Angkatan Darat Nepal telah mengerahkan ratusan tentara dan aset militer lainnya, termasuk helikopter, untuk mengevakuasi warga ke tempat yang aman.

Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban tewas tertinggi, yakni 64 orang, diikuti oleh Dhading dengan 27 korban dan Nawalparasi Timur dengan 22 korban.

Kepolisian Nepal menyatakan bahwa 28 petugas mereka juga masih dinyatakan hilang. Menurut laporan awal, banjir menghancurkan 19 jembatan dan ruas jalan raya utama sepanjang 40 kilometer, sehingga memutus jalur transportasi dan menyulitkan upaya penyelamatan.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal mengatakan bahwa banjir menyebabkan kerusakan parah di beberapa distrik, seraya mengingatkan bahwa informasi yang tersedia saat ini masih bersifat awal.

Ia mengimbau peningkatan kewaspadaan di sepanjang tepian Sungai Bhotekoshi dan Trishuli di distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan, karena risiko di wilayah tersebut masih tinggi.

Menurut Kementerian Keuangan Nepal, India, Tiongkok, dan Bank Dunia telah mulai mengoordinasikan bantuan keuangan untuk upaya penyelamatan, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi di wilayah-wilayah yang terdampak banjir.

Menteri Luar Negeri India mengatakan pada Kamis pagi bahwa New Delhi telah mengirimkan pesawat kedua yang membawa 37,5 ton bantuan kemanusiaan, perlengkapan bantuan bencana, obat-obatan, dan paket makanan untuk Nepal.

Tiga tewas, 558 hilang di Tibet

Setidaknya tiga orang tewas dan 558 orang masih dinyatakan hilang di wilayah Gyirong, Tiongkok, akibat bencana tanah longsor, demikian dilaporkan media pemerintah Tiongkok. Tanah longsor melanda Pelabuhan Gyirong di bagian barat daya Daerah Otonom Xizang -,yang lebih dikenal sebagai Tibet,-demikian dilaporkan Kantor Berita Xinhua yang berbasis di Beijing pada hari Kamis.

Sebuah tim komando dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok dikerahkan ke wilayah terdampak pada hari Kamis untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan gabungan yang melibatkan personel militer.

Pos lintas batas Gyirong merupakan titik penyeberangan utama bagi wisatawan dan lalu lintas antara Tiongkok dan Nepal.

Menurut laporan tersebut, State Grid Xizang Electric Power Company Limited sedang menyiapkan pasokan listrik darurat di kota Gyirong.

Kementerian Manajemen Darurat serta Administrasi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Nasional Tiongkok mengerahkan lebih dari 100 petugas pemadam kebakaran dan personel penyelamat ke lokasi bencana.

(Fajar Nugraha)