Wakil Ketua MPR: Pendidikan Merupakan Investasi Peradaban

Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Istimewa.

Wakil Ketua MPR: Pendidikan Merupakan Investasi Peradaban

Arga Sumantri • 20 August 2026 18:38

Jakarta: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menentukan masa depan Indonesia. Setiap rupiah yang dialokasikan melalui APBN harus memiliki manfaat yang jelas bagi rakyat.

Hal itu disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk 'Sekolah Berkualitas, SDM Berkualitas: Investasi Pendidikan untuk Indonesia Emas dalam RAPBN 2027' yang digelar di Ruang Rapat Pimpinan MPR, Jakarta.

"Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah investasi peradaban. Kalau kita ingin mengubah masa depan Indonesia, kita harus mulai dari ruang kelas," kata Ibas dalam keterangan tertulis, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurut dia, ukuran keberhasilan anggaran dalam sektor pendidikan tidak hanya dilihat dari berapa banyak yang dibelanjakan, tetapi dari seberapa besar anggaran tersebut mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengubah masa depan anak-anak Indonesia.

Revitalisasi Sekolah Harus Menyentuh Kualitas Pembelajaran

Ia mengapresiasi berbagai langkah pemerintah dalam menjadikan anggaran pendidikan sebagai prioritas. Termasuk, percepatan revitalisasi sekolah dan peningkatan dukungan terhadap guru.

Namun, ia mengingatkan agar revitalisasi sekolah tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Menurutnya, sekolah berkualitas membutuhkan lebih dari sekadar gedung yang layak. 

Pemerintah juga perlu memastikan tersedianya guru yang berkualitas, kepala sekolah yang kuat, kurikulum yang relevan, kemampuan literasi dan numerasi yang baik, pemanfaatan teknologi yang tepat, serta lingkungan belajar yang aman.

“Jangan hanya membangun ruang kelas. Kita harus membangun ruang untuk bermimpi. Sekolah yang aman, bersih, dan berkualitas bukan kemewahan. Itu adalah hak setiap anak Indonesia," kata dia.

Ia juga mendorong agar revitalisasi sekolah dilakukan berbasis data sehingga intervensi pemerintah benar-benar diarahkan kepada daerah dan satuan pendidikan yang paling membutuhkan.

Diskusi Kebangsaan bertajuk 'Sekolah Berkualitas, SDM Berkualitas: Investasi Pendidikan untuk Indonesia Emas dalam RAPBN 2027'

Guru Harus Menjadi Investasi Utama

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan yang berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru. Ibas menyoroti pentingnya memastikan berbagai kebijakan terkait status dan kesejahteraan guru berjalan selaras dengan kemampuan fiskal negara serta didukung sinkronisasi data yang baik.

"Guru harus menjadi investasi utama. Kesejahteraan harus berjalan bersama peningkatan kompetensi. Kita ingin guru bukan hanya hadir di kelas, tetapi mampu menjadi penggerak utama peningkatan kualitas pembelajaran," ujar Ketua Fraksi Demokrat di DPR itu.

Pendidikan Harus Menyiapkan Generasi Menghadapi Era AI

Perubahan teknologi, khususnya perkembangan artificial intelligence (AI), juga menjadi salah satu perhatian utama dalam diskusi tersebut. Ia menilai pendidikan Indonesia tidak boleh hanya mengajarkan generasi muda bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana berpikir kritis dan bertanggung jawab ketika berhadapan dengan teknologi.

"AI bisa memberikan jawaban. Tetapi guru mengajarkan pertanyaan apa yang layak ditanyakan," katanya.

Pendidikan ke depan harus memperkuat kemampuan berpikir, logika, etika, kreativitas, literasi digital, sains, numerasi, dan karakter. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar dan pengguna teknologi. Generasi muda harus dipersiapkan menjadi pencipta teknologi, inovator, sekaligus pencipta lapangan pekerjaan.

"Kita tidak ingin generasi Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi. Kita ingin mereka menjadi pencipta teknologi. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan," tegas dia.

Lima Arah Kebijakan Pendidikan

Ibas mendorong lima arah utama yang perlu menjadi perhatian dalam pembahasan RAPBN 2027. Pertama, kebijakan pendidikan harus berorientasi pada proses dan hasil belajar, sehingga keberhasilan anggaran dapat diukur melalui peningkatan kualitas pembelajaran.

Kedua, revitalisasi sekolah harus berbasis data, agar pembangunan dan perbaikan sekolah benar-benar menjawab kesenjangan antardaerah. Ketiga, guru harus menjadi investasi utama, melalui peningkatan kesejahteraan yang disertai penguatan kompetensi dan profesionalisme.

Keempat, pendidikan harus mampu menyiapkan generasi menghadapi masa depan melalui penguatan literasi, numerasi, sains, kemampuan digital, artificial intelligence, karakter, dan keterampilan kerja.

Kelima, pemerintah harus memastikan kesempatan pendidikan yang semakin setara, sehingga tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena tempat lahir atau kondisi sosial ekonominya.

"Tempat lahir boleh berbeda. Kesempatan untuk memiliki masa depan tidak boleh berbeda," ungkapnya.

Struktur anggaran pendidikan dalam Rancangan APBN 2027 mencapai Rp820,9 triliun. Rinciannya, Rp490 triliun di pemerintah pusat; Rp277 triliun transfer ke daerah, dan Rp53 triliun pembiayaan. 

(Arga Sumantri)