Modifikasi Cuaca Dilakukan Jika DKI Jakarta Berawan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Antara.

Modifikasi Cuaca Dilakukan Jika DKI Jakarta Berawan

Anggi Tondi Martaon • 5 August 2026 23:12

Jakarta: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memberikan persetujuan untuk dilakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) setiap satu atau dua kali dalam sepekan. Hal itu dilakukan apabila terdapat awan.

"Puncak El Nino akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023. Saya sudah memberikan persetujuan kalau bisa setiap minggu satu dua kalau memang awannya ada dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca," kata Pramono dikutip dari Antara, Rabu, 5 Agustus 2026.

Pramono menyampaikan data perkiraan hujan berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut dia, hujan akan turun pada pertengahan atau akhir September, dan minggu pertama atau kedua Oktober.

"Problemnya adalah ada kemungkinan untuk bisa awan ada itu kecil. Tetapi, saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan," ungkap Pramono.

Selain itu, Pramono mengatakan fokus Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menghadapi fenomena El Nino. Salah satunya antisipasi terhadap kebakaran.

"Saya minta untuk setiap RW untuk persiapan APAR (alat pemadam api ringan) dari sekarang karena cuacanya kering," sebut Pramono.

Selain kebakaran, Pemprov DKI juga berupaya mengantisipasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta penyediaan air bersih.

Ilustrasi operasi modifikasi cuaca (OMC). Foto: Antara.

Sementara itu, BMKG menyatakan El Nino telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, sehingga memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.

Wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

(Anggi Tondi)