Diskusi kegiatan Gemuruh NasDem Jawa Tengah. (Istimewa)
Perluas Perlindungan Pekerja, NasDem Jateng Siapkan Wadah 'Curcol'
Lukman Diah Sari • 21 September 2026 10:14
Semarang: Persoalan ketenagakerjaan di Jawa Tengah (Jateng) tak lagi bisa dilihat sebatas isu upah dan hubungan industrial. Dinamika dunia kerja saat ini menuntut pendekatan komprehensif yang menyentuh ranah pelindungan, peningkatan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, hingga jaminan sosial bagi pekerja di sektor-sektor yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam diskusi rangkaian kegiatan Gemuruh NasDem Jawa Tengah yang membahas tantangan dan masa depan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi, di Semarang, Sabtu, 19 September 2026.
Ketua Bidang Migran DPP NasDem, Eva Sundari, menegaskan urgensi untuk memperluas definisi pekerja. Menurutnya, spektrum pekerja hari ini tidak hanya terbatas pada buruh industri, melainkan mencakup pekerja migran, pekerja rumah tangga, pekerja informal, pekerja platform, pekerja muda, hingga pekerja perawatan (care workers).
“Pekerja bukan hanya buruh pabrik. Kita harus melihat seluruh ekosistem pekerja yang menopang kehidupan masyarakat,” tegas Eva saat membuka diskusi.

Diskusi kegiatan Gemuruh NasDem Jawa Tengah. (Istimewa)
Lebih lanjut, Eva mendorong adanya pergeseran paradigma kebijakan ketenagakerjaan. Pendekatan yang sekadar berfokus pada pelindungan (worker protection) harus naik kelas menuju pengembangan pekerja (worker development). Pekerja dinilai butuh ruang untuk meningkatkan kompetensi, memperoleh sertifikasi, mengembangkan usaha, serta meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga.
Menyikapi tantangan tersebut, Ketua Bidang Migran DPW NasDem Jateng, Nur Amalia, menyatakan bahwa Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN) Jateng telah menyiapkan langkah konkret berupa layanan pengaduan bernama 'Curcol' (Curhat Colongan). Layanan ini diperuntukkan bagi pekerja maupun pekerja migran asal Jawa Tengah dan dapat diakses baik secara langsung (luring) maupun daring.
“Karena Rumah Migran NasDem peduli domestik dan luar negeri maka Curcol darat dan udara akan kita laksanakan secara rutin. Kita akan bersinergi dengan serikat-serikat pekerja formal, informal dan terutama yang bekerja di sektor Care Economy,” ungkap Nur Amalia.
Care Economy atau ekonomi perawatan yang meliputi pengasuhan anak, perawatan lansia, pendampingan penyandang disabilitas, hingga pekerjaan rumah tangga, dipandang sebagai pilar penting yang menopang roda kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kolaborasi dan Dukungan Anggaran
Dari kacamata akar rumput, Novi Kurniasih dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Tengah menyoroti pentingnya advokasi anggaran guna mewujudkan pelindungan pekerja migran yang ideal. Ia menilai, intervensi kebijakan daerah melalui Peraturan Gubernur (Pergub) dan Peraturan Bupati (Perbup) sangat mendesak untuk memastikan ketersediaan anggaran, khususnya dalam menangani kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).Inisiatif RM-CEN ini mendapat respons positif dari pemangku kepentingan terkait. Kepala BP3MI Jawa Tengah, Dewi Aryani, menyambut baik gagasan Rumah Migran NasDem Jateng yang memadukan empat fungsi esensial: pelindungan, peningkatan kapasitas SDM, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan komunitas. Ia berharap RM-CEN dapat menjadi mitra strategis BP3MI Jateng ke depannya. Diskusi tersebut bermuara pada satu kesimpulan besar, yakni perlunya politik ketenagakerjaan yang lebih inklusif. Negara dan para pemangku kepentingan tidak boleh hanya hadir saat terjadi letupan konflik industrial, melainkan harus mendampingi pekerja dalam proses peningkatan kapasitas menuju kesejahteraan.
“Pekerja jangan hanya menjadi objek kebijakan. Pekerja harus menjadi subjek pembangunan dan subjek politik,” pungkas Anggota DPR RI Komisi IX Fraksi NasDem, Irma Chaniago, yang turut mengawal jalannya diskusi tersebut.