Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo dalam Bonum Commune Forum x Harmony in Diversity Pre-Event dengan tema Community Action: Grassroots Movements as Architects of Peace
Komunitas Akar Rumput Didorong Jadi Garda Terdepan Perawat Perdamaian
Whisnu Mardiansyah • 13 July 2026 21:20
Jakarta: Ketika perpecahan sosial dan kabar bohong kian mudah menjalar melalui kanal digital, upaya menciptakan kedamaian dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada aktor tertentu. Komunitas-komunitas di tingkat warga yang berinteraksi langsung dengan masyarakat justru memegang peranan strategis.
Mereka menjadi ruang musyawarah, memelihara kemajemukan, dan menekan munculnya sikap tidak toleran sejak dari lingkungan terdekat. Pernyataan itu disampaikan dalam Bonum Commune Forum x Harmony in Diversity Pre-Event dengan tema Community Action: Grassroots Movements as Architects of Peace yang diselenggarakan Sabtu, 11 Juli 2026, di Graha Pemuda, Jakarta.
Forum yang merupakan rangkaian dari Harmony in Diversity Award 2026 itu mendatangkan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo sebagai pembicara utama. Andar Nubowo (Direktur Eksekutif Maarif Institute) dan Sayyidatul Insiyah (Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute) turut hadir sebagai pemantik diskusi.
Dalam pidato pembukaannya, Kardinal Suharyo mengajak para hadirin menilik kondisi dunia yang masih diliputi konflik bersenjata, kompetisi alutsista, dan tarik-menarik kepentingan antarnegara.
Menurut hematnya, bahaya terbesar bagi umat manusia bukan sekadar akibat kemajuan teknologi maupun persenjataan. Bahaya yang lebih mengancam adalah lunturnya nilai etika dalam memanfaatkan semua itu.
Untuk memperjelas maksud tersebut, ia menuturkan alegori tentang empat saudara yang memakai kepandaian untuk membangkitkan seekor macan.
Daripada mendatangkan kebaikan, keahlian itu malah berujung celaka saat macan tersebut menerkam mereka. Alegori ini, kata Kardinal Suharyo, menjadi pengingat bahwa kepandaian tanpa disertai kearifan dapat berbalik merugikan umat manusia.
"Dunia tetap membutuhkan suara hati," tutur Kardinal Suharyo, Sabtu, 11 Juli 2026.
Oleh sebab itu, ia berpendapat kelompok-kelompok kecil yang terus bergiat di tengah warga mempunyai posisi penting sebagai pemelihara moral publik.
Di hadapan beratnya persoalan dunia, aksi akar rumput mungkin terlihat sederhana. Kendati demikian, gerakan itulah yang menjadi alas yang menopang harapan akan terwujudnya kedamaian.
.jpeg)
Pandangan serupa disampaikan Andar Nubowo, Direktur Eksekutif Maarif Institute. Ia menyatakan bahwa kemajemukan merupakan anugerah bangsa yang wajib dipelihara melalui wahana pertemuan dan kerja sama antarberbagai komunitas.
"Kita sebagai kelompok beriman harus memanfaatkan media sosial untuk menebarkan kebaikan," ucap Andar.
Andar menerangkan Maarif Institute sejak didirikan berkomitmen mengelola beragam kegiatan pendidikan, riset, dan pendampingan kebijakan.
Semua program itu ditujukan untuk mengokohkan sikap saling menghormati, sikap moderat dalam beragama, serta apresiasi terhadap perbedaan. Kegiatan menyasar pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik, hingga paguyuban warga agar nilai-nilai kebersamaan tertanam sejak usia dini.
Andar juga berpendapat platform digital dapat dimanfaatkan untuk menebarkan semangat damai dan memperluas wacana tentang urgensi hidup berdampingan secara rukun.
Kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan, kelompok lintas kepercayaan, institusi pendidikan, dan angkatan muda menjadi makin krusial. Sinergi itu akan mengokohkan budaya saling menghargai di kalangan rakyat.
Sementara itu, Sayyidatul Insiyah, Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute, mengingatkan rintangan dalam membangun toleransi masih tampak dalam sendi-sendi kehidupan kebangsaan.
Berdasarkan pengamatan dan penelitian SETARA Institute, pelanggaran terhadap kemerdekaan beragama dan berkeyakinan, perlakuan tidak adil terhadap golongan minoritas, hingga kendala pembangunan tempat ibadah masih terjadi di sejumlah wilayah.
"Kita semua memiliki peran untuk berkontribusi menciptakan kehidupan yang lebih inklusif. Komunitas menjadi ruang penting untuk membangun perjumpaan, mengurangi prasangka, dan memperkuat kepercayaan antar masyarakat," ujar Sayyidatul.
Ia menilai bahwa pemeliharaan kemajemukan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan yuridis. Penguatan kapasitas institusi, pembenahan tata pemerintahan, serta partisipasi aktif warga sipil juga sangat diperlukan. Melalui upaya-upaya itu, nilai-nilai toleransi dapat terwujud dalam keseharian masyarakat.
Dalam sesi tanya jawab, para hadirin mengangkat sejumlah persoalan yang dihadapi komunitas di daerah. Isu yang dibahas mencakup penyebaran sikap tidak toleran melalui media sosial dan kebutuhan untuk memperluas jalinan kerjasama antarkelompok masyarakat sipil.
Sejumlah peserta berpendapat bahwa gerakan warga perlu makin giat menciptakan lingkungan yang aman bagi publik. Tidak hanya dalam persoalan toleransi lintas iman, tetapi juga dalam menyikapi dinamika sosial yang tumbuh di pelbagai daerah.
Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan menjalankan agama dan perlindungan hak asasi manusia. Seluruh pembicara sepakat bahwa keberagaman patut dipandang sebagai kekuatan kolektif yang memperkaya kehidupan kebangsaan. Keberagaman bukanlah alas untuk membangun tembok pemisah antarkelompok identitas.
Melalui forum ini, Harmony in Diversity Award kembali menegaskan bahwa kedamaian tidak lahir secara kilat. Perdamaian bertumbuh dari hubungan keseharian yang dibangun oleh masyarakat. Ketika komunitas mampu menghadirkan wadah pertemuan, menguatkan solidaritas, dan memelihara dialog lintas golongan, mereka bukan hanya menjaga kerukunan di lingkungannya sendiri. Mereka turut meletakkan pondasi perdamaian yang lebih kuat bagi Indonesia.