Audiensi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-81. Dok Istimewa.
Generasi Muda Dinilai Perlu Terus Didorong untuk Merawat Sejarah
Arga Sumantri • 6 October 2026 17:35
Jakarta: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menekankan pentingnya merawat sejarah, menjaga persatuan, serta melanjutkan perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa melalui kontribusi nyata sesuai tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam audiensi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-81. Dalam kesempatan itu, Edhie Baskoro menyambut para peserta di Rumah Kebangsaan MPR RI dan menegaskan bahwa MPR tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam mengawal konstitusi, tetapi juga turut menjaga kedaulatan rakyat.
"Di rumah inilah kita terus memikirkan bagaimana konstitusi negara tetap kita jadikan pedoman. Tapi di sisi lain, kita meyakini bahwa hari ini gerak dan rakyat adalah yang paling besar untuk kita perjuangkan," ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Oktober 2026.
Sejarah Harus Menjadi Jejak dan Kompas
Menurut Ibas, merawat sejarah bukan sekadar mengingat nama tokoh atau peristiwa masa lalu. Sejarah harus menjadi jejak sekaligus kompas bagi generasi hari ini dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depan.Sejarah perlu disampaikan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman, baik melalui film, musik, podcast, teknologi, media sosial, maupun berbagai aktivitas publik.
"Jangan sampai kita seperti hilang akar. Marilah sama-sama kita ceritakan sejarah yang membanggakan generasi kita," kata Ibas.
Ia menilai generasi muda perlu mengenal sejarah melalui bahasa dan media yang dekat dengan keseharian mereka. Namun, kemasan yang kekinian tetap harus berpijak pada data dan fakta agar sejarah tidak kehilangan makna maupun kebenarannya.
Baca Juga :
Literasi Kebudayaan Kunci Rawat Karakter Bangsa
Menjaga Sejarah dengan Cara Kekinian
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menilai perkembangan teknologi memberikan ruang yang semakin luas untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Media sosial, berbagai aplikasi, hingga platform digital dapat menjadi sarana untuk membuat sejarah lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan nilai dan substansinya.Karena itu, pendekatan dalam menyampaikan sejarah perlu terus beradaptasi. Sejarah tidak harus selalu dikemas secara kaku, tetapi tetap harus disampaikan secara bertanggung jawab berdasarkan data dan fakta.
Menurut Ibas, perjuangan para pahlawan harus dapat dipahami melalui konteks kehidupan hari ini. Jangan sampai generasi muda menerima informasi yang keliru atau sejarah yang telah diputarbalikkan.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya berbicara mengenai perjuangan bersenjata, tetapi juga mencakup kekayaan budaya, bahasa, kuliner, agama, hingga pariwisata yang membentuk identitas bangsa. Karena itu, keberadaan museum dan arsip menjadi penting sebagai bagian dari upaya menjaga memori kolektif bangsa.
"Merawat sejarah adalah banyak hal: mengingat, merawat dan menjaga," ujar Ibas.
Menjaga Keberlanjutan Sejarah
Sejalan dengan hal tersebut, ahli sejarah dan pegiat sejarah publik, Asep Kambali, menekankan pentingnya pendidikan dalam menjaga keberlanjutan sejarah. Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya dipelajari sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi harus mampu memberikan makna dan membentuk generasi yang dapat menciptakan sejarahnya sendiri."Suatu bangsa dapat hidup dari makanan, tetapi hanya dengan pendidikan bangsa itu dapat hidup melintasi zaman," ujar Asep.
Ia juga mendorong agar jejak sejarah terus dirawat melalui museum, arsip, dan berbagai ruang pembelajaran publik. Menurut Asep, mempelajari sejarah dan mengambil makna dari perjalanan masa lalu penting dilakukan, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana generasi hari ini mampu menciptakan karya dan prestasi yang kelak menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Gustika Hatta, cucu Mohammad Hatta. Ia menilai tantangan dalam memperkenalkan sejarah kepada generasi muda salah satunya adalah bagaimana membuat sejarah tidak berhenti pada hafalan tanggal dan peristiwa. Sejarah merupakan perjalanan bangsa yang perlu dipahami untuk menentukan apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Mengenal sejarah bukan hanya melihat ke belakang, tetapi juga melihat ke depan, apa yang kita mau wariskan dalam sejarah ini," ujar Gustika.