BPS Waspadai Kenaikan Harga Beras Jelang Akhir 2026

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. Foto: tangkapan layar YouTube Kemendagri.

BPS Waspadai Kenaikan Harga Beras Jelang Akhir 2026

Andika Fauzan Azhari • 5 October 2026 15:35

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai pergerakan harga beras menjelang akhir 2026. Kenaikan harga beras yang berlanjut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada Desember akibat efek basis rendah (low base effect).

"Kalau beras kenaikannya terus-menerus, maka pada Desember 2026 ada yang dinamakan low base effect. Artinya nantinya pada Desember 2026, jika harganya terus naik dibandingkan dengan Desember 2025 yang hanya Rp15 ribu, maka akan terjadi inflasi yang tergolong cukup tinggi," ujar Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026 di Jakarta, dikutip dari YouTube Kemendagri RI, Senin, 5 Oktober 2026.

Ateng mengatakan, kondisi harga beras pada 2026 berbeda dengan dinamika pada tahun sebelumnya. Pada akhir 2025, pergerakan harga beras cenderung melandai dan mengalami penurunan menjelang Desember.


Ilustrasi pedagang beras. Foto: dok MI.
 

Perlu kewaspadaan ekstra


Menurut Ateng, selisih harga (gap) yang melebar antara periode akhir tahun lalu dan tahun ini menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai agar tidak menekan daya beli masyarakat.

"Ini beda di fenomena yang 2025, ini menjelang Desember sudah mulai harganya mengalami penurunan. Itu catatan kami, beras yang perlu untuk diwaspadai adanya low base effect karena pengaruh harga gap di Desember terhadap nanti Desember di 2026," tegas dia.

Secara umum, BPS mencatat inflasi bulanan pada September 2026 sebesar 0,30 persen, sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,28 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil terbesar terhadap inflasi nasional.

(Ade Hapsari Lestarini)