Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi dalam Dua Bulan

Dolar AS. Foto: Magnific.

Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi dalam Dua Bulan

Husen Miftahudin • 29 September 2026 08:31

New York: Dolar AS bergerak di sekitar level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Senin waktu setempat. Penguatan terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
 
Harga minyak yang masih tinggi turut menjadi perhatian pelaku pasar valuta asing. Investor juga menanti sejumlah data ekonomi penting AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 29 September 2026, Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama naik 0,22 persen menjadi 101,197.
 
Pada penutupan perdagangan New York, euro melemah menjadi USD1,1368 dari USD1,1399 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling Inggris menguat menjadi USD1,3261 dari USD1,3252.
 
Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang. Dolar diperdagangkan di level 157,40 yen, naik dari 157,13 yen pada sesi sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar menguat menjadi 0,8319 franc dari 0,8282 franc.
 
Dolar juga naik menjadi 1,4171 dolar Kanada dari 1,4144 dolar Kanada. Adapun terhadap krona Swedia, dolar menguat menjadi 9,9537 krona dari 9,9045 krona pada sesi sebelumnya.
 

 

Imbal hasil obligasi AS melejit

 
Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut menopang penguatan dolar dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya biaya pinjaman dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve.
 
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 5,237 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2007.
 
Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga naik 5,1 basis poin menjadi 5,553 persen. Posisi tersebut melanjutkan level tertinggi sejak Juni 2004 yang dicapai pada pekan sebelumnya.
 
Sentimen pasar turut dipengaruhi belum adanya perkembangan diplomatik signifikan antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada pekan lalu.
 
Situasi kembali menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan telah menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan. Iran juga menyatakan tidak akan melonggarkan persyaratan terkait pembukaan kembali jalur maritim tersebut.
 
Namun, sejumlah laporan media pada Senin menyebut Trump siap mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran dan pelepasan aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas kemajuan dalam program nuklir negara tersebut.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

 
Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada hampir dua pekan lalu. Bank sentral AS juga memberikan sinyal terkait kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
 
Kenaikan harga minyak dan sejumlah data ekonomi yang menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap tumbuh turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.
 
Berdasarkan alat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve Oktober mencapai sekitar 70 persen. Angka tersebut naik dari 64 persen sehari sebelumnya dan lebih dari 57 persen pada pekan sebelumnya. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
 
Perhatian investor pada pekan ini tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan The Fed, dijadwalkan dirilis pada Rabu.
 
Sementara itu, Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada Selasa. Pasar juga menanti laporan penggajian nonpertanian AS untuk September yang akan dirilis pada Jumat. Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati investor dalam melihat kondisi pasar tenaga kerja dan prospek kebijakan moneter AS.

(Husen Miftahudin)