UNAS dan Universiti Malaya Gelar Konferensi Peradaban Melayu Dunia II

UNAS dan University Malaya gelar Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia II, dok: istimewa

UNAS dan Universiti Malaya Gelar Konferensi Peradaban Melayu Dunia II

Putri Purnama Sari • 4 November 2026 20:08

Jakarta: Universitas Nasional (UNAS) bekerja sama dengan Universiti Malaya, Malaysia, sukses menyelenggarakan Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia II di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, pada 3 November 2026. Konferensi ini mengangkat tema “Memperkukuh Potensi Budaya Melayu dalam Menghadapi Cabaran Geopolitik Dunia Baru”.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari Indonesia dan Malaysia serta 250 undangan yang hadir secara langsung di kampus Universiti Malaya. Konferensi ini menjadi ruang pertemuan bagi para pejabat, akademisi, diplomat, dan pemangku kepentingan untuk membahas peran peradaban Melayu dalam menghadapi perubahan geopolitik dunia.

Sejumlah isu menjadi pembahasan dalam konferensi tersebut, mulai dari hubungan historis bangsa-bangsa serumpun, penguatan hubungan Indonesia–Malaysia, diplomasi kebudayaan, perkembangan teknologi digital, hingga tantangan tatanan dunia multipolar.

Para pembicara juga menyoroti pentingnya menjadikan warisan sejarah dan budaya Melayu sebagai modal untuk membangun kerja sama kawasan yang lebih inklusif dan menghadapi dinamika global.

Dato Sri Awang Bemee: Selat sebagai Pemersatu, Bukan Pemisah

Yang di-Pertua Dewan Negara Parlemen Malaysia, Dato Sri Awang Bemee bin Awang Ali Basah, menegaskan bahwa selat dan kawasan perairan di Asia Tenggara bukan sekadar jalur geografis dan perdagangan. Lebih dari itu, wilayah tersebut merupakan ruang pemersatu warisan sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan peradaban bangsa-bangsa serumpun.

Ia menjelaskan, keterhubungan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand mencerminkan warisan bersama rumpun Melayu dan Kepulauan Melayu yang telah terbangun sejak masa kejayaan peradaban Majapahit dan Kesultanan Melaka.

Warisan historis tersebut perlu menjadi fondasi untuk memperkuat persaudaraan, memperluas kerja sama antarbangsa, serta membangun kesadaran kolektif bahwa sejarah dan peradaban merupakan modal penting dalam menghadapi dinamika kawasan dan global saat ini.

Lebih lanjut, Dato Sri Awang Bemee menekankan pentingnya kepemimpinan dan peran institusi dalam merespons berbagai tantangan kontemporer. Tantangan tersebut mencakup persaingan rantai pasok global (global supply chain), ketimpangan digital (digital inequality), serta perubahan geopolitik yang semakin kompleks.

Dalam konteks tersebut, semangat kesatuan ASEAN harus diwujudkan melalui kerja sama yang inklusif, kesetaraan antarbangsa, dan kontribusi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun masa depan kawasan.

Ia juga menggarisbawahi bahwa geopolitik seharusnya menjadi instrumen untuk memanfaatkan potensi dan memperkuat kolaborasi antarnegara, bukan justru menciptakan perpecahan dan ketegangan.

Dengan demikian, persatuan yang berlandaskan warisan sejarah dan penguatan institusi menjadi landasan strategis untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang lebih setara, tangguh, dan berdaya saing.

Fadli Zon: Peradaban Melayu Jadi Fondasi Strategis Hubungan Indonesia–Malaysia


Fadli Zon, dok: istimewa

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan peradaban Melayu merupakan fondasi historis, kultural, dan identitas bersama yang memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan diplomatik serta persahabatan antara Indonesia dan Malaysia.

Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya pada Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia II di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, pada 3 November 2026.

Menurut Fadli Zon, warisan sejarah besar seperti Majapahit dan Melaka menunjukkan bahwa peradaban Melayu dan Nusantara memiliki keterhubungan historis yang kuat. Keduanya juga menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas kawasan.

Kedekatan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kerja sama konkret. Beberapa bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain nominasi bersama Warisan Budaya Takbenda UNESCO, pertukaran seniman, budayawan, dan akademisi, kolaborasi riset, digitalisasi manuskrip, serta dokumentasi tradisi lisan.

Selain itu, pengembangan aksara Jawi dan sinergi industri kreatif, khususnya film dan musik, juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara.

Fadli Zon menekankan bahwa penguatan hubungan kebudayaan tidak boleh berhenti pada kesamaan sejarah. Kerja sama tersebut perlu diarahkan menjadi agenda bersama yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan peradaban masa kini.

Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan institusi dan kolaborasi lintas negara dalam menghadapi berbagai tantangan global. Mulai dari disrupsi teknologi, kesenjangan digital, ketimpangan dalam rantai pasok (supply chain), perubahan iklim, hingga ketidakpastian geopolitik.

Menurutnya, kearifan lokal (local wisdom) harus menjadi sumber pengetahuan dan kekuatan kolektif untuk membangun ketahanan masyarakat sekaligus mendorong kesetaraan dalam menghadapi transformasi global.

Dalam konteks tersebut, semangat ASEAN yang tunggal dan inklusif perlu diperkuat dengan memberikan ruang dan peran setara bagi seluruh negara serta masyarakat dalam membentuk masa depan kawasan.

Fadli Zon juga menegaskan bahwa geopolitik semestinya menjadi landasan untuk memanfaatkan potensi kerja sama dan membangun kemajuan bersama, bukan justru menciptakan perpecahan.

Sementara itu, peran diaspora Indonesia yang diperkirakan mencapai 2,7 juta jiwa dinilai menjadi aset penting dalam memperluas jangkauan diplomasi budaya Melayu di tingkat global.

Konferensi yang diselenggarakan secara hibrida melalui kerja sama Universitas Nasional dan Universiti Malaya melalui Akademi Pengajian Melayu ini juga menjadi momentum untuk memperkuat jejaring akademik, diplomasi kebudayaan, dan kemitraan strategis Indonesia–Malaysia.

Umar Hadi Soroti Identitas Melayu dalam Tatanan Dunia Multipolar


Umar Hadi, dok: istimewa

Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Umar Hadi, menekankan bahwa peradaban modern ditandai oleh semakin kompleksnya identitas manusia.

Menurutnya, identitas manusia tidak lagi terbatas pada identitas nasional, tetapi juga berkembang menjadi identitas multikultural dan warga dunia (global citizen). Ia menjelaskan terdapat dua elemen utama yang sangat memengaruhi perkembangan peradaban kontemporer, yakni migrasi dan perkembangan teknologi digital.

Migrasi merupakan fenomena pergerakan manusia lintas kawasan yang telah berlangsung sejak sejarah awal peradaban. Sementara itu, perkembangan teknologi digital membentuk pola interaksi dan pertukaran pengetahuan masyarakat.

Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan berupa echo chamber, yaitu kecenderungan masyarakat untuk hanya mengonsumsi informasi dan pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri.

Di tengah semakin melemahnya multilateralisme dan meningkatnya ketidakpastian tatanan global, masyarakat internasional perlu membangun fondasi yang lebih kuat dari dalam.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat budaya damai, menghapus intoleransi, menjamin kebebasan beragama (freedom of religion), serta mendorong multibahasa (multilingualism) sebagai instrumen dialog antarperadaban.

Dalam konteks tersebut, inisiatif seperti United Nations Alliance of Civilizations menjadi relevan untuk memperkuat pemahaman lintas budaya, khususnya melalui keterlibatan generasi muda dan forum-forum dialog perdamaian.

Lebih lanjut, Umar Hadi menjelaskan bahwa perkembangan multipolaritas dunia menghadirkan dua kemungkinan. Pertama, terbentuknya tatanan global yang semakin terfragmentasi, transaksional, serta dipenuhi ketegangan dan persaingan sistem kepercayaan. Kedua, kondisi tersebut justru dapat mendorong semakin pentingnya pembangunan jejaring kerja sama lintas negara dan kawasan.

Situasi ini sekaligus membuka peluang strategis bagi negara-negara middle power, penguatan organisasi regional, perluasan kolaborasi riset, serta pengembangan kerja sama Selatan–Selatan (South-South Cooperation).

Ia juga menyoroti pentingnya pembelajaran dari berbagai jejaring kerja sama berbasis bahasa dan kawasan, seperti komunitas Francophonie dan negara-negara Nordik, termasuk Norwegia dan Finlandia.

Dalam konteks Asia Tenggara, hubungan antarmasyarakat, khususnya generasi muda, perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas budaya dan identitas kawasan.

Salah satu gagasan yang dinilai relevan adalah gerakan #SEAblings. Gerakan ini merepresentasikan semangat persaudaraan (siblings) di antara generasi Z Asia Tenggara untuk membangun kedekatan, solidaritas, dan jejaring kolaborasi regional.

Dengan demikian, peradaban Melayu tidak hanya menjadi warisan sejarah dan identitas budaya, tetapi juga dapat berperan sebagai jembatan diplomasi kebudayaan dalam membangun tatanan dunia yang lebih inklusif, damai, dan saling terhubung.

Awang Azman Awang Pawi Bahas Perubahan Geopolitik melalui Perspektif Postmodernisme

Dekan Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya, Datuk Profesor Kolonel (K) Dr. Awang Azman Awang Pawi, menyampaikan bahwa perubahan geopolitik dunia tidak dapat dilepaskan dari perkembangan pemikiran postmodernisme.

Pemikiran tersebut mulai mempertanyakan kembali narasi-narasi besar (grand narratives), termasuk ideologi, kekuasaan, identitas, dan konstruksi politik negara.

Keraguan terhadap narasi besar tersebut turut membuka ruang bagi perubahan tatanan geopolitik global. Hal ini terlihat dalam dinamika keruntuhan Uni Soviet dan munculnya konfigurasi kekuatan dunia yang baru.

Dalam konteks ini, pendekatan postmodernisme, etnoskeptisisme, dan kajian pascakolonial menjadi perspektif penting untuk memahami bagaimana identitas, sejarah, bahasa, dan relasi kekuasaan membentuk realitas masyarakat.

Pemikiran Gayatri Chakravorty Spivak, misalnya, memberikan landasan kritis untuk melihat bagaimana kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan memperoleh ruang representasi dalam wacana pengetahuan dan kekuasaan global.

Lebih lanjut, Awang Azman menekankan pentingnya mengembangkan kajian komunitas secara bersama (community-based collaborative studies). Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat pemahaman terhadap warisan, identitas, dan keberlanjutan peradaban Melayu.

Menurutnya, kajian peradaban Melayu tidak cukup hanya ditempatkan sebagai romantisme sejarah. Sebaliknya, warisan tersebut harus menjadi sumber pengetahuan kritis untuk menjawab tantangan perubahan sosial, budaya, dan geopolitik kontemporer.


UNAS dan University Malaya gelar Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia II, dok: istimewa

Dalam kaitan tersebut, pemikiran Raja Ali Haji, khususnya Gurindam Dua Belas Pasal Kelima, dapat dijadikan salah satu pijakan reflektif dalam membangun karakter, etika, dan kebijaksanaan masyarakat Melayu.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memperlihatkan bahwa peradaban Melayu memUniversitas Nasional (UNAS), menyampaikan bahwa penyelenggaraan konferensi ini merupakan momentum penting karena mempertemukan pejabat tinggi, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Malaysia.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar forum akademik, melainkan juga sebuah monumen persahabatan yang diharapkan mampu mempererat kembali hubungan dua negara bersaudara, terutama ketika dinamika hubungan bilateral tidak selalu berjalan dalam suasana harmonis. Melalui dialog kebudayaan dan pertukaran gagasan, konferensi ini diharapkan menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama, memperkuat ikatan historis, serta meneguhkan kembali persaudaraan Indonesia–Malaysia.

Iskandarsyah menegaskan bahwa kerja sama antara Universitas Nasional dan Universiti Malaya memberikan manfaat strategis bagi kedua institusi. Bagi perguruan tinggi Indonesia, kolaborasi dengan Universiti Malaya yang berada pada peringkat ke-54 dunia membuka peluang untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan masukan berharga dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta pengembangan akademik.

Sebaliknya, kemitraan dengan perguruan tinggi Indonesia seperti UNAS memberikan Universiti Malaya ruang kolaborasi yang lebih luas untuk mengembangkan potensi akademik, kebudayaan, dan jejaring internasional. Ia menilai kerja sama tersebut memberikan keuntungan nyata bagi kedua belah pihak.

Sebagai Ketua Panitia, Iskandarsyah juga menyampaikan kebanggaan dan penghargaan atas kehadiran para pembicara kunci, pemakalah, peserta, serta seluruh tamu undangan yang telah berkontribusi menyukseskan Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia II.

Melalui penyelenggaraan konferensi ini, UNAS dan Universiti Malaya diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi akademik dan kebudayaan. Warisan peradaban Melayu diharapkan tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga menjadi modal untuk membangun persaudaraan, kerja sama regional, dan kontribusi bagi peradaban dunia di tengah perubahan geopolitik global.

(Putri Purnama Sari)