Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ditutup Turun ke Level Rp16.829 per USD
Eko Nordiansyah • 24 February 2026 16:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah sudah melemah dari dolar AS sejak pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 24 Februari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.829 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 27 poin atau setara 0,16 persen dari posisi Rp16.802 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.820 per USD. Rupiah melemah tujuh poin atau setara 0,04 persen dari Rp16.813 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.830 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.818 per USD.
Rupiah sempat diprediksi menguat
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada Selasa, 24 Februari 2026. Namun ia memperkirakan mata uang Garuda ditutup menguat di rentang Rp16.770- Rp16.800.Ibrahim mengatakan penguatan rupiah didukung oleh situasi pasar yang terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa. Menurutnya, hal ini meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda.
"Komentar Menteri Luar Negeri Iran Abbas, Araghchi yang mengatakan bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik kedua negara. Komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menambahkan sentimen juga datang dari Presiden AS, Donald Trump yang akan mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut laporan APBN Januari 2026 menjadi katalis selanjutnya. Diketahui, Kementerian Keuangan menyampaikan APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun.
"Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Aangka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," kata Ibrahim.
(1).jpeg)