Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat, Rescky Noereal Roma. Dok. Istimewa
Perang di Timur Tengah Jadi Momentum Perkuat Rantai Pasok Antardaerah
Achmad Zulfikar Fazli • 4 March 2026 11:55
Bandung: Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai memberikan dampak ekonomi bagi Indonesia. Khususnya, Jawa Barat sebagai jantung manufaktur dan salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
“Jawa Barat tidak bisa tinggal diam. Meski secara geografis konflik ini jauh di Timur Tengah, bila tidak di antisipasi akan ada dampak ekonomi yang berdampak kepada pengusaha,” kata Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat, Rescky Noereal Roma, dalam keterangannya, Rabu, 4 Maret 2026.
Rescky mengungkapkan pertama akan terjadi guncangan biaya produksi dan logistik. Menurut dia, Jawa Barat memiliki ketergantungan tinggi pada stabilitas harga energi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang kini membayangi angka USD100 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz, secara otomatis akan menaikkan biaya logistik domestik.
“Biaya transportasi logistik dari pusat produksi di Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta menuju pelabuhan atau pasar domestik akan membengkak. Industri kita, mulai dari tekstil hingga otomotif, akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang kini mulai mendekati level psikologis baru,” ujar dia.
Kedua, lanjut Rescky, ada ancaman bagi UMKM dan daya beli masyarakat. Menurut dia, UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia namun mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap Imported Inflation (inflasi yang berasal dari barang impor).
“Kenaikan harga BBM non-subsidi dan potensi penyesuaian tarif listrik industri akan menekan margin keuntungan pengusaha kecil yang sudah tipis. Jika daya beli masyarakat Jabar menurun karena inflasi pangan dan energi, maka serapan produk lokal pun akan ikut melambat,” kata dia.
Ketiga, ada disrupsi rantai pasok dan ekspor. Jawa Barat adalah eksportir utama produk manufaktur. Menurut dia, konflik ini mengganggu jalur pelayaran internasional dan meningkatkan biaya asuransi pengiriman (war risk premium).
“Hal ini membuat produk "Made in Jabar" menjadi kurang kompetitif di pasar global karena harga jual yang terpaksa naik akibat ongkos kirim yang mahal,” ujar dia.
Baca Juga:
Konflik Iran Vs Israel-AS Meningkat, Ini Dampak ke Ekonomi RI |

Ilustrasi. Metrotvnews.com
Oleh karena itu, pihaknya mendorong beberapa langkah konkret, antara lain optimalisasi pasar domestik. Saat pasar ekspor terganggu, ini menjadi momentum untuk memperkuat rantai pasok antardaerah di Jawa Barat.
Menurut dia, saatnya bangga dan mengutamakan penggunaan produk lokal melalui gerakan Bela Beli Produk Jabar.
Dia juga menghimbau para pengusaha untuk mulai melakukan audit efisiensi energi dan logistik. Transformasi ke arah digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memotong rantai distribusi yang tidak efisien. Selain itu, perlu ada sinergi dengan pemerintah daerah.
“Kami meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperkuat jaring pengaman ekonomi bagi pelaku UMKM, terutama dalam hal stabilitas harga bahan baku pangan dan kemudahan akses pembiayaan di tengah tren suku bunga yang kemungkinan akan tetap tinggi,” kata dia.
Rescky mengatakan perang di Timur Tengah memang di luar kendali Indonesia, namun ketahanan ekonomi Jawa Barat ada di tangan pelaku usaha. HIPPI Jabar akan tetap menjadi garda terdepan dalam mendampingi pengusaha pribumi agar tidak hanya selamat dari krisis ini, tetapi mampu beradaptasi dan tetap tumbuh.
“Jawa Barat telah teruji melewati berbagai krisis. Dengan kolaborasi yang solid antara pengusaha, pemerintah, dan masyarakat, saya yakin kita bisa memitigasi badai geopolitik ini,” ujar dia.