Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Konflik Iran Vs Israel-AS Meningkat, Ini Dampak ke Ekonomi RI
Naufal Zuhdi • 1 March 2026 16:50
Jakarta: Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, menilai probabilitas pelemahan rupiah di awal perdagangan cukup tinggi seiring meningkatnya konflik Iran–Israel dan Amerika Serikat.
Menurutnya, posisi rupiah saat ini memang sudah berada pada level rentan, yakni di kisaran Rp16.800 per dolar AS. Rizal menilai, ketika konflik meningkat, pasar global akan memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung keluar dari emerging market dan mengalihkan dana ke dolar AS serta US Treasury.
“Shock geopolitik berfungsi sebagai trigger, bukan penyebab utama,” ujarnya saat dihubungi, Minggu, 1 Februari 2026.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan harga minyak turut memperbesar kebutuhan valuta asing domestik karena Indonesia masih berstatus net importer energi. Artinya, rupiah menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni capital outflow dan peningkatan permintaan dolar untuk impor BBM.
“Pelemahan di awal perdagangan lebih merupakan respon mekanis pasar terhadap risiko global daripada perubahan fundamental domestik,” kata Rizal.
Ia menjelaskan durasi pelemahan sangat bergantung pada dinamika konflik. Jika eskalasi terbatas dan hanya bersifat shock sentimen, maka tekanan kurs cenderung berlangsung singkat, dari hitungan hari hingga beberapa minggu. Namun, apabila konflik mengganggu jalur distribusi minyak Timur Tengah, dampaknya berubah menjadi shock fundamental.
Dalam skenario tersebut, harga energi naik, impor migas meningkat, inflasi terdorong naik, dan defisit transaksi berjalan melebar. “Rupiah tidak hanya melemah karena psikologi pasar, tetapi karena struktur permintaan dolar domestik meningkat,” ujarnya.

(Ilustrasi konflik Israel-AS dengan Iran. Foto: Dok Anadolu)
3 dampak ke ekonomi Indonesia
Rizal memetakan setidaknya tiga saluran utama dampak terhadap ekonomi Indonesia, yakni energi, kurs, dan fiskal. Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya impor dan menekan neraca perdagangan migas. Pemerintah kemungkinan menahan kenaikan harga energi domestik demi menjaga inflasi, namun konsekuensinya beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi membesar sehingga mempersempit ruang fiskal APBN.Pelemahan rupiah juga memicu imported inflation karena banyak bahan baku industri masih bergantung pada impor. Biaya produksi manufaktur pun naik, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
“Dampak akhirnya adalah pertumbuhan ekonomi melambat melalui kombinasi, di mana daya beli tertekan inflasi, investasi tertahan ketidakpastian, dan dunia usaha cenderung wait and see,” ujarnya.
Ia menegaskan, eskalasi Iran–Israel-AS bukan sekadar peristiwa geopolitik bagi Indonesia, melainkan shock makro yang simultan menekan inflasi, nilai tukar, APBN, dan aktivitas perdagangan nasional.