Waisak di Bundaran HI, Cermin Indahnya Keberagaman di Jakarta

Instalasi yang dipajang di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Foto: Metro TV/Muhammad Alvi Randa.

Waisak di Bundaran HI, Cermin Indahnya Keberagaman di Jakarta

Muhammad Alvi Randa • 31 May 2026 19:14

Jakarta: Pelataran ikonik Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, bersolek menyambut Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era. Kehadiran ornamen keagamaan di ruang publik terbuka ini tidak sekadar mempercantik visual estetika kota, melainkan menjelma sebagai panggung nyata bagi pengakuan keberagaman dan kesetaraan hak beragama di pusat ibu kota.

"Pastinya bagus ya. Jangan hanya momen Idulfitri atau Natal saja. Waisak juga umatnya banyak. Umat Buddha pasti senang kalau melihat ada perayaan seperti ini, jadi lebih semangat," kata Sisilia, 59, salah seorang warga yang merayakan Waisak, saat berbincang dengan Metrotvnews.com di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu, 31 Mei 2026.
 


Langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam memboyong atmosfer kesucian Waisak ke ruang publik mendapat tempat spesial di hati Sisilia. Baginya, kebijakan inklusif ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir memberikan atensi yang adil bagi seluruh pemeluk agama, tanpa terkecuali.

Sepanjang sore hingga malam membayang, mata Sisilia berbinar menyaksikan bagaimana sekat-sekat perbedaan melebur begitu saja di bawah pendar lampion. Area pameran budaya Buddha tersebut tidak eksklusif milik satu golongan, melainkan menjadi ruang interaksi yang hangat bagi warga dari berbagai latar belakang keyakinan.

"Saya lihat yang foto-foto tidak hanya dari agama Buddha saja. Banyak juga yang Muslim. Mereka ikut berfoto dan membantu mengambilkan foto. Jadi sama-sama memeriahkan," tutur dia.

Pemandangan saling melempar senyum dan saling bantu mengabadikan momen berswafoto di antara pengunjung lintas iman itu menjadi potret toleransi yang mahal. Sisilia menilai, antusiasme masyarakat yang begitu masif membuktikan bahwa simbol keagamaan di ruang publik justru efektif memicu lahirnya kebersamaan yang natural, bukan perpecahan.


Instalasi yang dipajang di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Foto: Metro TV/Rifda Muthia Zahra.

Mengakhiri langkah kakinya di kawasan Bundaran HI, Sisilia menaruh harapan besar agar terobosan visioner dari Pemprov DKI Jakarta ini tidak berhenti sebagai agenda musiman belaka. Langkah awal ini harus menjadi fondasi kokoh untuk merawat wajah inklusif Jakarta di masa-masa yang akan datang.

"Menurut saya yang ada sekarang sudah lumayan. Setahu saya dulu belum ada acara seperti ini. Tahun ini ada ide yang cukup bagus. Mudah-mudahan tahun depan lebih bagus lagi dan lebih meriah," harap Sisilia.

(Fachri Audhia Hafiez)