Ramai di Media Sosial, Apa Itu Fenomena Downgrade Lifestyle?

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Ramai di Media Sosial, Apa Itu Fenomena Downgrade Lifestyle?

Eko Nordiansyah • 30 September 2026 18:30

Jakarta: Fenomena penurunan gaya hidup (downgrade lifestyle) ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial. Ada banyak alasan menurunkan gaya hidup, salah satunya tekanan ekonomi yang dinilai tidak mudah.

Seorang pengguna Threads @wulan_as7 menceritakan upaya downgrade yang dialaminya. "In this economy, apa yang sudah kalian downgrade? Me: jual HRV, beli LCGC. Gpp yaa yg penting fungsinya sama," tulis dia.

Lalu apa sebenarnya fenomena downgrade lifestyle ini?

Dikutip dari Investopedia, pertukaran antara uang atau tingkat kekayaan, dan kualitas hidup, yang berkaitan dengan kesejahteraan ini dikenal dengan downshifting. Seseorang menurunkan standar hidup demi kesederhanaan dan peningkatan kualitas hidup.

Downshifting adalah pilihan yang diambil individu untuk mengubah kebiasaan mereka guna mencapai gaya hidup yang lebih sederhana dan lebih baik.

Bukan sekadar mengurangi pengeluaran

Downshifting lebih menekankan pada keputusan sadar untuk menyesuaikan gaya hidup dengan prioritas hidup. Seseorang misalnya dapat memilih tinggal di rumah yang lebih kecil karena ingin menekan biaya bulanan, atau mengurangi barang yang dimiliki agar pengeluaran dan tanggung jawabnya lebih ringan.

Tujuannya bukan sekadar memiliki lebih sedikit, tetapi memperoleh manfaat lain seperti waktu luang yang lebih banyak, beban kerja yang lebih ringan dan tingkat stres yang lebih rendah.

Orang yang melakukan downshifting dapat mengurangi pendapatan, pengeluaran, standar hidup atau tanggung jawab pekerjaan. Sebagai gantinya, mereka mengharapkan kehidupan yang lebih bermakna dan seimbang.
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

3 bentuk downshifting

Downshifting dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dalam Investopedia, setidaknya terdapat tiga bentuk yang umum dilakukan.

1. Pengurangan konsumsi

Seseorang mengurangi pembelian barang atau menghilangkan barang yang tidak diperlukan. Pola ini juga dapat berupa perubahan dari membeli banyak barang menjadi lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas.

2. Mengurangi aktivitas yang membebani kehidupan

Waktu yang sebelumnya digunakan untuk berbagai aktivitas dapat dialihkan untuk keluarga, teman, hobi, olahraga atau kegiatan yang dianggap lebih memberikan kepuasan.

3. Penurunan karier atau career downshifting

Seseorang dapat memilih meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi tetapi memiliki tekanan besar, kemudian mengambil pekerjaan dengan tanggung jawab atau penghasilan lebih rendah namun menawarkan fleksibilitas dan kepuasan yang lebih besar.

Tujuan akhirnya adalah mengubah pola hidup untuk bekerja menjadi bekerja untuk hidup.

Alasan memilih gaya hidup lebih sederhana

Ada sejumlah alasan yang dapat mendorong seseorang melakukan downshifting. Di antaranya keinginan mengurangi stres, mendapatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman, hingga memiliki kesempatan untuk menjalankan hobi.

Selain itu, pengurangan konsumsi juga dapat dilakukan untuk mengurangi pengeluaran serta menghindari kepemilikan barang-barang materialistis yang dianggap tidak memberikan manfaat berarti.

Dalam konteks yang lebih luas, downshifting juga berkaitan dengan lingkungan. Mengurangi konsumsi berarti dapat mengurangi penggunaan sumber daya dan jejak ekologis.

Karena itu, keputusan untuk "turun kelas" dalam gaya hidup tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi yang memburuk. Dalam konsep downshifting, perubahan tersebut justru dapat menjadi keputusan pribadi untuk mencari keseimbangan antara pendapatan, pekerjaan, waktu dan kualitas hidup.

Downgrade lifestyle tidak selalu berarti mundur

Fenomena downgrade lifestyle di media sosial menunjukkan ukuran keberhasilan hidup tidak selalu identik dengan peningkatan konsumsi.

Namun, keputusan untuk menurunkan gaya hidup tetap merupakan pilihan personal yang perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhan masing-masing individu.

Dalam konsep downshifting, seseorang dianjurkan terlebih dahulu menentukan tujuan perubahan tersebut, kemudian melihat kondisi keuangan dan pola konsumsi sebelum mengurangi pendapatan, jam kerja maupun pengeluaran.

Dengan demikian, downgrade lifestyle dan downshifting memiliki irisan pada gagasan hidup lebih sederhana. Perbedaannya, downshifting tidak hanya berbicara tentang “mengurangi gaya hidup”, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang menata kembali pekerjaan, konsumsi, waktu dan prioritas.

(Eko Nordiansyah)