Mengapa Surabaya Dijuluki Kota Pahlawan? Ini Sejarahnya

Patung Sura dan Baya Ikon Kota Surabaya (Dok. Institut Kesehatan dan Bisnis Surabaya)

Mengapa Surabaya Dijuluki Kota Pahlawan? Ini Sejarahnya

Putri Purnama Sari • 5 November 2026 15:07

Jakarta: Surabaya dikenal dengan julukan Kota Pahlawan karena memiliki sejarah panjang perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Julukan tersebut tidak terlepas dari keberanian arek-arek Suroboyo saat menghadapi pasukan Sekutu dalam pertempuran besar pada 10 November 1945.

Namun, sejarah kepahlawanan Surabaya tidak hanya bermula pada masa kemerdekaan. Kota yang berada di pesisir utara Jawa Timur ini juga memiliki perjalanan sejarah sejak zaman kerajaan hingga masa kolonial. Berbagai peristiwa tersebut membentuk identitas Surabaya sebagai kota yang lekat dengan semangat keberanian dan perjuangan.

Asal-usul Nama Surabaya dan Sejarah Kota

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Surabaya, nama Surabaya berasal dari dua kata, yaitu sura yang berarti berani dan baya yang berarti bahaya. Gabungan kedua kata tersebut dimaknai sebagai keberanian dalam menghadapi bahaya.

Nilai kepahlawanan dalam sejarah Surabaya juga dikaitkan dengan peristiwa pertempuran antara Raden Wijaya dan pasukan Mongol yang dipimpin Kubilai Khan pada 1293.

Tanggal tersebut kemudian diabadikan sebagai hari jadi Kota Surabaya, yaitu 31 Mei. Hingga kini, tanggal tersebut diperingati setiap tahun sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.

Selain memiliki sejarah perjuangan, Surabaya sejak dahulu dikenal sebagai kawasan strategis untuk perdagangan dan aktivitas pelabuhan. Letaknya di pesisir utara Pulau Jawa membuat kota ini berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Peran tersebut berlanjut pada masa kolonial Belanda. Pada abad ke-19, pemerintah kolonial menjadikan Surabaya sebagai salah satu pelabuhan utama untuk mengumpulkan hasil perkebunan dari wilayah pedalaman Jawa Timur sebelum dikirim ke Eropa.

Awal Mula Perlawanan Arek-Arek Suroboyo

Perjuangan masyarakat Surabaya semakin terlihat setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Semangat mempertahankan kemerdekaan tumbuh di tengah masyarakat, terutama ketika muncul tindakan yang dianggap sebagai upaya mengembalikan kekuasaan Belanda.

Salah satu peristiwa yang memperlihatkan semangat tersebut adalah Insiden Hotel Yamato pada 19 September 1945. Saat itu, bendera Belanda berwarna merah, putih, dan biru dikibarkan di Hotel Yamato, yang sekarang dikenal sebagai Hotel Majapahit, Surabaya.

Mengutip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), para pemuda Surabaya awalnya melakukan perundingan dengan W.V.C. Ploegman untuk meminta agar bendera Belanda tersebut diturunkan. Namun, perundingan tidak mencapai kesepakatan.

Kegagalan perundingan memicu kemarahan para pemuda yang berada di luar hotel. Mereka kemudian mendobrak masuk dan terlibat perkelahian di lobi. Sebagian pemuda berusaha naik ke bagian atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Dalam peristiwa tersebut, Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali masuk ke hotel. Ia kemudian terlibat dalam upaya menurunkan bendera bersama Kusno Wibowo.

Keduanya berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian berwarna biru, kemudian mengibarkan kembali bendera tersebut sebagai Merah Putih. Aksi itu disambut sorak-sorai masyarakat yang berkumpul di sekitar hotel dengan pekikan "Merdeka".

Pertempuran 10 November 1945


Foto: Inggris dan NICA. (Istimewa)

Puncak perjuangan masyarakat Surabaya terjadi pada 10 November 1945. Pertempuran besar tersebut pecah setelah kedatangan pasukan Sekutu yang terdiri atas tentara Inggris dan Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada 25 Oktober 1945.

Mengutip Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, kedatangan pasukan Sekutu awalnya bertujuan mengamankan tawanan perang dan melucuti senjata tentara Jepang. Namun, situasi kemudian memanas setelah pasukan tersebut memasuki sejumlah wilayah di Surabaya dan mendirikan pos pertahanan.

Pada 27 Oktober 1945, pasukan Sekutu menyerbu penjara untuk membebaskan tawanan perang yang ditahan pihak Indonesia. Mereka juga meminta masyarakat menyerahkan senjata. Perintah tersebut ditolak para pejuang Indonesia karena dianggap mengancam kemerdekaan yang baru saja diperoleh.

Ketegangan semakin meningkat ketika pasukan Indonesia yang dipimpin Bung Tomo melakukan serangan terhadap pos-pos pertahanan Sekutu pada 28 Oktober 1945. Serangan tersebut berhasil merebut sejumlah tempat penting di Surabaya.

Meskipun sempat terjadi gencatan senjata pada 29 Oktober 1945, bentrokan bersenjata masih berlangsung. Situasi semakin memburuk setelah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pimpinan pasukan Inggris di Jawa Timur, tewas pada 30 Oktober 1945. Peristiwa tersebut membuat pihak Inggris meningkatkan tekanan terhadap masyarakat Surabaya.

Sebagai pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Inggris memerintahkan seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya untuk melapor, menyerahkan senjata, serta datang ke tempat yang telah ditentukan paling lambat pukul 06.00 pada 10 November 1945 untuk menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.

Inggris juga mengancam akan menggempur Surabaya melalui serangan darat, laut, dan udara apabila ultimatum tersebut tidak dipatuhi. Namun, para pemimpin perjuangan dan masyarakat Surabaya menolak menyerah.

Pada pagi hari 10 November 1945, pasukan Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dari berbagai arah. Pasukan Indonesia bersama milisi dan masyarakat sipil memberikan perlawanan meskipun harus menghadapi persenjataan yang jauh lebih modern.

Pertempuran berlangsung sengit selama kurang lebih tiga minggu. Menurut catatan sejarah yang dipublikasikan Kementerian Sosial, sekitar 20.000 warga Surabaya menjadi korban, sebagian besar merupakan masyarakat sipil. Selain itu, sekitar 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota akibat pertempuran tersebut.

Tokoh-Tokoh di Balik Perjuangan Surabaya

Perlawanan di Surabaya tidak lepas dari peran sejumlah tokoh yang menggerakkan dan mengobarkan semangat masyarakat. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemimpin pemerintahan, ulama, hingga tokoh perjuangan.

Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Sutomo atau Bung Tomo. Ia berperan membangkitkan semangat rakyat melalui siaran Radio Pemberontakan milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Pidato-pidatonya yang berapi-api mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dalam mempertahankan kemerdekaan.

Selain Bung Tomo, terdapat Gubernur Jawa Timur saat itu, R.M.T.A. Soerjo atau Gubernur Suryo. Ia memiliki peran penting dalam menyampaikan sikap pemerintah daerah terhadap ultimatum Inggris. Gubernur Suryo menegaskan bahwa masyarakat Surabaya harus mempertahankan kemerdekaan.

Tokoh lainnya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, ia menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam. Seruan tersebut turut memperkuat semangat perjuangan masyarakat dalam menghadapi ancaman kembalinya penjajahan.

Ada pula Mayjen Moestopo yang dikenal sebagai salah satu tokoh militer dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
 

Mengapa Surabaya Dijuluki Kota Pahlawan?

Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Julukan Kota Pahlawan melekat pada Surabaya karena kota ini menjadi salah satu pusat perlawanan rakyat Indonesia terhadap pasukan asing setelah kemerdekaan. Pertempuran 10 November 1945 menjadi peristiwa penting yang membentuk identitas Surabaya hingga sekarang.

Peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan masyarakat yang mempertahankan kemerdekaan, khususnya mereka yang terlibat dalam pertempuran di Surabaya.

Tugu Pahlawan sebagai Simbol Perjuangan Surabaya


Tugu Pahlawan di Surabaya (Dok. Antara)

Untuk mengenang perjuangan masyarakat dalam Pertempuran 10 November 1945, Surabaya memiliki sebuah monumen bersejarah bernama Tugu Pahlawan. Bangunan ini menjadi salah satu ikon kota sekaligus tempat untuk mengenang jasa para pejuang.

Tugu Pahlawan berada di Jalan Pahlawan, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Monumen tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Bentuk monumen menyerupai paku terbalik dengan tinggi sekitar 41,15 meter. Bagian tubuhnya memiliki 10 lengkungan dan terbagi menjadi 11 ruas. Unsur tersebut melambangkan tanggal 10, bulan 11, dan tahun 1945, yaitu waktu terjadinya pertempuran besar di Surabaya.

Di kawasan yang sama terdapat Museum Sepuluh Nopember. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat Surabaya, seperti dokumentasi sejarah, benda peninggalan, serta diorama yang menggambarkan suasana pertempuran.

(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)