Harga Minyak Turun Lebih dari 1%, Brent Dijual USD113 per Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun Lebih dari 1%, Brent Dijual USD113 per Barel

Eko Nordiansyah • 28 October 2026 08:40

Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Upaya diplomatik yang terus berlangsung di antara kekuatan-kekuatan regional Timur Tengah berhasil meredam kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Dikutip dari Investing, Rabu, 28 Oktober 2026, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun 1,7 persen menjadi USD113,82 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember melemah dua persen menjadi USD99,78 per barel.

Pekan lalu, harga minyak Brent sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima bulan setelah menembus angka USD112 per barel, serta mencatatkan kenaikan mingguan yang signifikan.

Kenaikan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasokan akibat pertempuran sengit antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, serta meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Upaya diplomatik di Timur Tengah

Penurunan harga minyak pada Selasa terjadi sehari setelah Iran menggelar pertemuan empat pihak yang melibatkan Iran, Pakistan, Arab Saudi, dan Turki.

Menurut media pemerintah Iran, pertemuan tersebut membahas keamanan dan stabilitas regional, serta dipimpin oleh Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Pertemuan ini dihadiri oleh Pangeran Khalid bin Salman bin Abdulaziz (Menteri Pertahanan Arab Saudi), Asim Munir (Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan), dan kepala intelijen Turki.

Laporan media juga menyebutkan pada Selasa, Rezaei bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Selain itu, para pejabat Qatar telah menjalin komunikasi dengan Teheran dalam upaya mencegah meluasnya konflik.
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)

Upaya diplomatik tersebut telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut antara AS dan Iran, namun para investor tetap bersikap hati-hati apakah upaya ini akan menghasilkan peredaan ketegangan yang langgeng.

Presiden Donald Trump terus membuka kemungkinan adanya serangan militer lebih lanjut terhadap Iran, sementara Teheran menyatakan negosiasi dengan Washington memerlukan konsesi, termasuk pengakhiran blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Kekhawatiran pasokan masih ada

Secara terpisah, para pelaku pasar energi merasa khawatir dengan ancaman terhadap arus minyak yang melewati Selat Bab el-Mandeb, di tengah pertempuran sengit antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Bulan ini, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan untuk merebut kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok Houthi di sekitar selat tersebut.

Kelompok Houthi merespons dengan menargetkan infrastruktur energi dan bandara di Arab Saudi, yang mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban jiwa. Pada Selasa, seorang juru bicara Houthi menyatakan kelompoknya telah menyerang kilang minyak Ras Tanura, kilang minyak terbesar di Arab Saudi.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan pasar energi kemungkinan besar tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang pada 2027. Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang konflik tersebut terhadap rantai pasok.

Perusahaan minyak milik negara, Saudi Aramco, juga berencana untuk mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027. Inisiatif ini diumumkan oleh menteri energi dari Arab Saudi dan Singapura sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan rantai pasok regional mereka.

(Eko Nordiansyah)