PTBA Bukukan Pendapatan Rp22,03 Triliun, Ditopang Penguatan Ekspor

Alat berat beroperasi di area tambang PTBA. Perseroan membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada Semester I 2026 berkat peningkatan volume ekspor. (dok. PTBA)

PTBA Bukukan Pendapatan Rp22,03 Triliun, Ditopang Penguatan Ekspor

Patrick Pinaria • 28 October 2026 08:00

Jakarta: PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada Semester I 2026, tumbuh 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan penjualan ekspor, pemulihan operasional pada kuartal II, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara menjadi sejumlah faktor yang menopang kinerja perusahaan.

Anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID tersebut juga mencatat laba bersih sebesar Rp2,65 triliun, meningkat 218 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini berlangsung seiring dengan pemulihan kinerja produksi dan strategi penjualan yang menyesuaikan dinamika pasar batu bara.

Dari sisi operasional, PTBA mencatat produksi batu bara sebanyak 19,45 juta ton dan penjualan mencapai 21,10 juta ton. Dari total penjualan tersebut, sebanyak 10,33 juta ton disalurkan ke pasar ekspor, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejumlah negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Sementara itu, penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51 persen dari keseluruhan penjualan perusahaan.

Kinerja PTBA turut ditopang oleh penguatan harga batu bara. Pada Semester I 2026, Newcastle Index meningkat 25 persen secara tahunan, sedangkan ICI-3 naik 15 persen yoy. Perkembangan tersebut mendorong kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA sebesar 10 persen yoy, sehingga mendukung pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas perusahaan di tengah dinamika volume produksi dan penjualan.

Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan capaian tersebut menjadi fondasi bagi Perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan melalui penguatan bisnis inti serta pengembangan sumber pertumbuhan baru.

"Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujar Bambang.
 

 

Perkuat infrastruktur dan rantai pasok

Selain menjaga kinerja penjualan, PTBA melanjutkan pengembangan infrastruktur pertambangan dan logistik untuk memperkuat bisnis intinya. Salah satu proyek strategis yang dikembangkan adalah jalur angkutan Tanjung Enim–Kramasan, yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas angkutan sekaligus memperkuat sistem logistik dan distribusi batu bara.

Progres proyek Tanjung Enim–Kramasan telah mencapai sekitar 93 persen. PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui Term Sheet dengan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk fasilitas Senior Term Loan hingga Rp3,56 triliun.

Di samping itu, perusahaan mempercepat realisasi pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7 pada jalur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan. Pengembangan kedua fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas angkutan dan pemuatan batu bara sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.

"Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6-7 agar sistem logistik batubara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal," lanjut Bambang.
 

Dorong hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah

Di luar penguatan bisnis batu bara, PTBA juga mengembangkan hilirisasi dan diversifikasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya serta menyiapkan sumber pertumbuhan baru.

Bersama mitra strategis, perusahaan terus mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol, termasuk dari aspek teknologi, keekonomian, dan skema bisnis.

PTBA juga mengembangkan kalium humat, produk berbasis hasil pengolahan batu bara yang berpotensi mendukung sektor pertanian. Saat ini, pilot plant kalium humat memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun, dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun.
 

"Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, Metanol, dan Kalium Humat," jelas Bambang.
 

Perluas portofolio energi terbarukan

Upaya diversifikasi bisnis juga dilakukan melalui pengembangan energi terbarukan. PTBA menjalin kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pascatambang dan sekitar area operasional perusahaan.

Pengembangan tersebut mencakup berbagai potensi aset dan lokasi milik PTBA, termasuk pemanfaatan lahan pascatambang yang telah direklamasi. Hingga saat ini, total portofolio PLTS PTBA telah mencapai sekitar 1,2 megawatt-peak (MWp).

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan aset, memperluas portofolio energi terbarukan, mendukung transisi energi, serta membuka peluang pertumbuhan baru.

Ke depan, PTBA akan terus mengidentifikasi proyek potensial di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pascatambang, serta bidang bisnis potensial lainnya. Setiap proyek dikaji secara selektif dengan mempertimbangkan aspek keekonomian, kesiapan teknologi, kepastian pasar, kebutuhan investasi, dan potensi sinergi dengan bisnis perusahaan.

Bambang menegaskan batu bara tetap menjadi kekuatan utama PTBA. Namun, perusahaan juga mempersiapkan diri menghadapi perubahan lanskap energi dan industri melalui pengembangan portofolio bisnis yang lebih beragam dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penciptaan nilai.

"Prinsip kami adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maupun pemangku kepentingan. Dengan memperkuat bisnis inti sekaligus mengembangkan bisnis baru, kami optimistis PTBA dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi ketahanan energi serta perekonomian nasional," tutup Bambang.

(Patrick Pinaria)