Ilustrasi minyak sawit. Foto: Dok Ditjenbun Kementan
DSI Siap Perkuat Kepercayaan Dunia Terhadap Minyak Sawit Indonesia
Gervin Nathaniel Purba • 6 November 2026 10:45
Jakarta: PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menegaskan siap menegakkan standar industri, mempermudah kepatuhan regulasi, serta memperkuat kepercayaan dunia terhadap minyak sawit Indonesia. Sistem baru ini bersama dengan minyak sawit berkelanjutan dapat saling melengkapi guna memperkuat kepercayaan pasar global.
"Kami hadir untuk menegakkan standar industri, mempermudah kepatuhan regulasi, serta memperkuat kepercayaan dunia terhadap minyak sawit Indonesia,” ujar CEO DSI Luke Mahony, dalam keterangannya, dikutip Antara, Jumat, 6 November 2026.
DSI, kata Luke, menyambut baik dialog dengan Forum Meja Bundar tentang Minyak Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO), karena aspek keberlanjutan dan akses pasar harus berjalan beriringan. Mandat DSI sangat tegas, yakni memfasilitasi ekspor minyak sawit Indonesia, bukan menghambat.
DSI, kata Luke, menyambut baik dialog dengan Forum Meja Bundar tentang Minyak Sawit Berkelanjutan (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO), karena aspek keberlanjutan dan akses pasar harus berjalan beriringan. Mandat DSI sangat tegas, yakni memfasilitasi ekspor minyak sawit Indonesia, bukan menghambat.
Hadirkan transparansi
Hal itu sejalan dengan tujuan didirikannya DSI untuk mengawasi dan mengelola ekspor komoditas strategis. Dia menekankan, DSI bertujuan untuk menghadirkan transparansi dan kredibilitas pada pasar komoditas Indonesia, dengan memanfaatkan data yang ada dalam ekosistem dan memadukannya dengan realitas pasar. Termasuk aspek keberlanjutan dari perspektif RSPO, pasokan, harga, dan produksi.
Di bawah model perantara DSI yang akan diluncurkan pada Januari 2027, pembeli dan penjual tetap menjaga hubungan bisnis mereka. Sementara DSI melindungi kontinuitas ekspor dan menjaga rantai ketertelusuran.
(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Sebelumnya, RSPO menegaskan komitmen mereka dengan menunjukkan data, fakta, serta bukti nyata atas tindakan yang telah dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, yang didukung oleh sistem RSPO.
CEO RSPO Joseph D’Cruz D’Cruz, pada pembukaan RT2026, Selasa, 3 November 2026, menyatakan data menunjukkan konsesi bersertifikat RSPO terdampak kebakaran dengan tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.
Data pemantauan satelit dari Nusantara Atlas dan TreeMap selama periode Januari hingga September 2026, menunjukkan bahwa dari total 1,9 juta hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026, sekitar 14.500 hektare (0,8 persen) terkonfirmasi berada di konsesi bersertifikat RSPO.
“Apabila ditemukan indikasi kebakaran yang tidak lazim di konsesi tertentu, kami akan mengidentifikasi dan melakukan investigasi. Salah satu konsesi tersebut saat ini telah menjadi subjek pengaduan melalui Sistem Pengaduan RSPO, dan kami akan mencermati konsesi lainnya secara saksama," ujar dia dalam keterangannya.
Lebih lanjut, dia menyatakan, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan lahan terbakar di area perkebunan petani swadaya bersertifikat RSPO. Meskipun beberapa kelompok petani tersebut tinggal dan menjalankan kegiatan pertanian di tengah wilayah yang terdampak kebakaran.