Produksi Obat Ilegal Sukoharjo Beromzet Rp3 Miliar Sehari, Diracik Lulusan SMA 'Alumni' Pabrik Jamu

Dirresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya. Metrotvnews.com/Damar

Produksi Obat Ilegal Sukoharjo Beromzet Rp3 Miliar Sehari, Diracik Lulusan SMA 'Alumni' Pabrik Jamu

Achmad Zulfikar Fazli • 21 October 2026 13:44

Jakarta: Polda Metro Jaya membongkar pabrik obat keras ilegal di Kartasura dan Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pabrik tersebut beromzet hingga miliaran rupiah per hari.

"Pabrik pertama di Kartasura ini omzet per harinya Rp2 sampai Rp3 miliar per hari dan bisa memproduksi 55 koli per hari, yaitu total 1.700.000 butir per hari," ujar Dirresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Sementara itu, omzet dari pabrik obat keras ilegal di Gatak mencapai Rp800 juta per hari. Pabrik itu memproduksi 20 koli per hari atau sebanyak 640 ribu butir.

"Bisa dibayangkan berapa dan bisa kita selamatkan sehingga obat ini tidak beredar di lapangan," jelas Bismo.

Konferensi pers pengungkapan pabrik obat keras ilegal di Sukoharjo, Jawa Tengah. Metrotvnews.com/Damar

Peracik Obat Keras

Bismo mengungkap obat keras di dua pabrik tersebut maksimal hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA), tanpa latar belakang farmasi. Mereka hanya pernah bekerja di pabrik jamu.

"Sebagian besar pernah kerja di pabrik jamu sebelumnya, sehingga dikasih tahu sama bosnya, oh takarannya seperti ini, pakai sendok takar ini, segenggam. Jadi masih ilmu manual, bukan yang sudah saintifik atau ilmiah," tegas Bismo.
 

Pabrik Tidak Higienis dan Pekerja Diisolasi

Bismo juga menyoroti lingkungan produksi yang tidak higienis. Para pekerja tidak mengenakan alat pelindung diri, seperti masker atau sarung tangan.

"(Obat) berserakan, bercampur, ada lubang tikus dan lain sebagainya. Dari segi higienitas tidak memakai APD, sarung tangan, masker, penutup rambut," ujar Bismo.
 


Bismo mengatakan pekerja diikat dengan sistem isolasi. Mereka dibayar Rp5 juta sampai Rp10 juta per bulan dan dilarang keluar dari area mess pabrik.

"Jadi (pekerja) hanya di dalam saja, ada mess-nya," kata Bismo.

(Achmad Zulfikar Fazli)