Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metro TV/Nattasya Amani.
Pramono Ungkap Modal Jakarta jadi Kota Sinema
Nattasya Amani Vrazeti • 20 October 2026 19:57
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan modal Jakarta untuk menjadi kota sinema tingkat nasional hingga internasional. Ia mengatakan, kesiapan infrastruktur kota yang semakin lengkap serta kondisi pertumbuhan ekonomi yang solid menjadi modal utamanya.
“Kita akui bahwa Jakarta sebagai kota sinema dibandingkan dengan daerah-daerah lain, infrastrukturnya paling lengkap,” ujar Pramono saat membuka secara resmi gelaran Jakarta Film Summit 2026 di Jakarta Pusat, Selasa, 20 Oktober 2026.
Baca Juga :
“Jakarta ini sebenarnya bisa menjadi pusat perfilman nasional, bahkan di ASEAN. Kenapa demikian? Karena persyaratannya itu memenuhi syarat,” kata Pramono.
Pramono menjelaskan salah satu indikator utama pendukungnya adalah kondisi perekonomian Jakarta yang tetap solid dan terkelola dengan baik. Pertumbuhan ekonomi Jakarta saat ini tercatat berada di tingkat positif dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Maka untuk itu, Jakarta sekarang ini tumbuh 5,52 persen, inflasinya 2,7 persen, dan kontribusi kita kepada GDP 16,32 persen. Artinya bahwa ekonomi kita betul-betul sehat Jakarta saat ini,” ujar Pramono.
Selain stabilitas ekonomi, Pramono menyoroti peningkatan kualitas transportasi umum serta daya saing kota di tingkat global sebagai penopang utama mobilitas industri kreatif. Di sisi lain, Bank Indonesia turut menegaskan pentingnya mengoptimalkan potensi industri film menjadi investasi nyata yang membuka lapangan kerja.
“Pengembangan ekonomi kreatif semakin relevan seiring transformasi perekonomian Jakarta menuju sektor jasa, yang pangsanya meningkat dari 53,95 persen pada 2019 menjadi 55,87 persen pada 2025,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan.

Ilustrasi perfilman. Foto: dok. Antara.
Iwan menyebutkan penataan sektor ekonomi kreatif ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang tanpa mengabaikan stabilitas daerah. Ekosistem perfilman dinilai memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas bagi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
“Perfilman memiliki rantai nilai yang luas, mulai dari penulisan skenario, produksi, dan pascaproduksi hingga distribusi. Aktivitas tersebut turut menggerakkan penyedia peralatan, kostum, katering, transportasi, akomodasi, serta UMKM lokal,” tutur Iwan.