Angkatan Laut Inggris Siap Pimpin Operasi Buka Selat Hormuz

Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu

Angkatan Laut Inggris Siap Pimpin Operasi Buka Selat Hormuz

Muhammad Reyhansyah • 25 March 2026 17:58

London: Angkatan Laut Kerajaan Inggris, Royal Navy, dilaporkan tengah bersiap mengambil peran utama dalam operasi koalisi guna membuka kembali akses di Selat Hormuz. 

Informasi ini diungkap dalam laporan yang dipublikasikan pada Selasa, 24 Maret 2026.

Pejabat pertahanan Inggris disebut sedang mempertimbangkan rencana untuk mengerahkan kapal perang atau kapal komersial yang disewa sebagai “kapal induk” bagi sistem otonom tanpa awak. Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi dan menetralkan ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Baca Juga :

Trump Klaim AS dan Iran Bisa Berbagi Kendali Atas Selat Hormuz

Dilansir dari Anadolu, Rabu, 25 Maret 2026, inisiatif ini akan menjadi bagian dari upaya multinasional yang lebih luas, melibatkan sekutu seperti Amerika Serikat dan Prancis, guna memastikan jalur pelayaran komersial tetap aman di salah satu rute perdagangan paling penting di dunia.

Para pejabat yang dikutip dalam laporan menyebutkan bahwa operasi tersebut kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa tahap.

Pada tahap awal, fokus akan diberikan pada upaya pencarian ranjau menggunakan sistem otonom canggih yang dioperasikan dari kapal induk tersebut.

Tahap berikutnya dapat mencakup pengerahan kapal permukaan tanpa awak bersama kapal perusak Type 45 milik Inggris, atau hanya menggunakan kapal perusak tersebut, untuk mengawal kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut.

“Kami memiliki kemampuan unggulan dunia dalam pencarian ranjau secara otonom, serta kemampuan kapal perusak Type 45 yang sangat mumpuni, dan juga pengembangan konsep angkatan laut hibrida yang memberi peluang untuk menghindari penempatan personel di area berbahaya demi mengamankan selat,” ujar seorang pejabat.

Pejabat pertahanan Inggris meyakini bahwa ranjau laut telah dipasang di selat tersebut, meskipun masih terdapat “jalur yang jelas” karena kapal-kapal dari India, Pakistan, dan Tiongkok masih dapat melintas.

Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Sejak awal Maret, Selat Hormuz juga mengalami gangguan signifikan. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melintasi jalur ini setiap hari, dan terganggunya arus tersebut telah mendorong kenaikan biaya pengiriman serta harga minyak global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)