Trump Sebut Iran Akan Dihantam dengan Keras usai Tolak Menyerah Tanpa Syarat

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Sebut Iran Akan Dihantam dengan Keras usai Tolak Menyerah Tanpa Syarat

Willy Haryono • 8 March 2026 08:42

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran akan “dihantam keras” setelah Teheran menolak tuntutan Washington agar menyerah tanpa syarat dalam konflik yang sedang berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social sebagai tanggapan atas komentar Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang sebelumnya meminta maaf kepada negara-negara tetangga Iran atas serangan yang terjadi selama sepekan terakhir.

Trump menilai permintaan maaf tersebut merupakan hasil dari tekanan militer yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Iran bukan lagi ‘pengganggu di Timur Tengah.' Mereka sekarang adalah ‘pecundang di Timur Tengah,'” tulis Trump, dikutip dari Independent, Minggu, 8 Maret 2026.

Ia juga mengatakan sedang mempertimbangkan opsi untuk melakukan penghancuran total terhadap wilayah atau kelompok baru sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai “perilaku buruk” Iran.

Iran Balas Ancaman

Kementerian Luar Negeri Iran segera menanggapi pernyataan tersebut dengan memperingatkan bahwa setiap upaya eskalasi akan mendapat balasan.

“Jika Trump menginginkan eskalasi, maka itulah yang akan ia dapatkan,” kata pernyataan resmi pemerintah Iran.

Sementara itu, Iran terus meluncurkan serangan rudal di berbagai wilayah kawasan ketika Israel mengklaim telah melakukan gelombang serangan baru terhadap Teheran dan Isfahan.

Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan ini telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran, lebih dari 200 orang di Lebanon, serta sekitar 12 orang di Israel. Enam personel militer Amerika Serikat juga dilaporkan tewas.

Sementara itu di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, Inggris dilaporkan memperkuat kesiapan militernya di kawasan. Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan sedang menyiapkan kapal induk HMS Prince of Wales untuk kemungkinan pengerahan ke Timur Tengah.

Jika dikerahkan, kapal tersebut dapat bergabung dengan kapal perusak HMS Dragon yang dijadwalkan melindungi pangkalan militer Inggris di Siprus.

Duta Besar Iran untuk Inggris, Seyed Ali Mousavi, memperingatkan London agar berhati-hati dalam mengambil langkah terkait konflik tersebut. Ia mengatakan Iran memiliki hak untuk membela diri jika Inggris ikut terlibat dalam operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel.

Konflik Meluas

Meski Iran sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara tetangga, serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat tetap berlanjut.

Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika di Juffair, Bahrain, sementara Qatar menyatakan berhasil mencegat rudal yang mengarah ke wilayahnya.

Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan bahkan menyebut negaranya sedang berada dalam “masa perang” dalam komentar publik pertamanya sejak konflik meletus.

Di Dubai, penumpang di bandara internasional sempat dipindahkan ke terowongan kereta di area bandara setelah alarm keamanan berbunyi. Rekaman video menunjukkan sebuah drone diduga menghantam area di dekat bandara.

Maskapai Emirates kemudian kembali melanjutkan operasional penerbangan setelah sempat menghentikan seluruh penerbangan menuju dan dari Dubai.

Proses Pemilihan Pemimpin Iran

Di tengah konflik yang terus meningkat, Iran juga melanjutkan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia ingin ikut memiliki peran dalam menentukan pengganti Khamenei. Namun pejabat Iran menegaskan bahwa pemilihan pemimpin negara sepenuhnya merupakan urusan internal Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Majelis Ahli, lembaga yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi, dapat menggelar pertemuan dalam waktu 24 jam untuk menentukan pengganti Khamenei.

Baca juga:  Presiden Iran Masoud Pezeshkian Minta Maaf atas Serangan ke Negara Teluk

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)