Iran Akui Mengetahui Lokasi Keberadaan Benjamin Netanyahu

Iran klaim berhasil lacak keberadaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: The White House

Iran Akui Mengetahui Lokasi Keberadaan Benjamin Netanyahu

Fajar Nugraha • 3 March 2026 19:21

Teheran: Mayor Jenderal Iran Yahya Rahim Safavi mengatakan aparat intelijen Iran memiliki "pengawasan lengkap" terhadap target Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Mayjen Safvi bahkan mengklaim mengetahui lokasi pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 3 Maret.

"Kami mengetahui lokasi pertemuan Netanyahu dan basis data intelijen kami lengkap," kata Safavi dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah, seperti dikutip Intellinews, Selasa 3 Maret 2026.

Safavi, yang menjabat sebagai panglima tertinggi IRGC dari tahun 1997 hingga 2007 mengatakan, Trump telah menjadi "pion di tangan Netanyahu" dan mengorbankan kepentingan Amerika untuk Israel.

Ia mengatakan banyak politisi AS mempertanyakan mengapa uang pembayar pajak Amerika dan nyawa tentara harus dihabiskan untuk melayani Israel.

Tokoh militer senior itu mengatakan Iran telah mengantisipasi serangan lebih lanjut setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 dan telah menggunakan periode tersebut untuk meningkatkan kemampuan rudal dan drone ofensifnya "sepuluh kali lipat" sambil mengejar diplomasi.

Safavi mengklaim operasi AS-Israel didasarkan pada "penilaian strategis yang keliru" bahwa Iran telah melemah akibat konflik sebelumnya, dan mengatakan serangan tersebut mengenai bangunan yang telah dievakuasi dari personel dan peralatan.

"Mereka menghancurkan bangunan kosong tanpa pasukan, tanpa penjaga, dan tanpa anggota Basij di dalamnya," katanya.

Penasihat tersebut mengatakan tujuan kampanye AS-Israel, yaitu perubahan rezim, pembubaran dan penaklukan Iran, tidak akan tercapai, dan menyatakan keyakinannya bahwa Majelis Pakar akan segera memilih pengganti Ayatollah Khamenei setelah pembentukan Dewan Kepemimpinan sementara.

Iran sebelumnya telah menargetkan rumah Perdana Menteri Israel dalam perang 12 hari terakhir pada tahun 2025 di luar Yerusalem, bersama dengan individu-individu penting lainnya dalam pemerintahannya pada saat itu.

Target sebelumnya telah merusak rumahnya secara parah. Keluarganya dilaporkan berada di luar Israel, di AS. Laporan terbaru juga menyatakan bahwa keluarganya saat ini berada di luar negeri.

Badan-badan negara Iran dan proksi mereka telah berulang kali menargetkan individu-individu Israel, termasuk diplomat, turis, pengusaha, dan anggota masyarakat, terutama di luar Israel, selama beberapa dekade.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)