Pertemuan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. (Anadolu Agency)
Netanyahu Dilaporkan Lobi Trump Berbulan-bulan untuk Pastikan AS Serang Iran
Muhammad Reyhansyah • 3 March 2026 10:43
Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memainkan peran kunci dalam mengarahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk bersedia menyerang Iran.
Menurut laporan The New York Times, Netanyahu secara pribadi melobi Trump selama berbulan-bulan dan berupaya memastikan bahwa jalur diplomatik tidak menggagalkan rencana aksi militer.
Dilansir dari TRT World, Selasa, 3 Maret 2026, laporan yang terbit pada Senin itu mengutip sejumlah sumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai pembahasan internal, termasuk pejabat Amerika dan Israel, diplomat, anggota parlemen, serta pejabat intelijen. Keputusan Washington untuk melancarkan serangan ke Iran digambarkan sebagai kemenangan besar bagi Netanyahu.
Saat bertemu Trump di Ruang Oval pada 11 Februari, Netanyahu disebut memiliki tujuan jelas, yakni mempertahankan komitmen Presiden AS terhadap opsi militer, meskipun Washington baru saja memulai perundingan nuklir dengan Iran melalui mediasi Oman.
Selama hampir tiga jam pertemuan, keduanya membicarakan kemungkinan waktu pelaksanaan serangan serta kecilnya peluang tercapainya solusi diplomatik.
Isu serangan terhadap fasilitas rudal Iran pertama kali diangkat Netanyahu ketika berkunjung ke kediaman Trump di Mar-a-Lago pada Desember. Dua bulan berselang, ia berhasil mengamankan komitmen yang lebih luas, yakni keterlibatan penuh Amerika Serikat dalam kampanye untuk menyerang kepemimpinan Iran.
Koordinasi kedua negara berlangsung erat. Pada Januari, ketika Netanyahu menilai Israel memerlukan tambahan waktu untuk memperkuat sistem pencegat rudal dan pertahanan udara, ia menghubungi Trump untuk meminta penundaan serangan. Trump menyetujui permintaan tersebut.
Dalam pekan-pekan berikutnya, pejabat tinggi militer dan intelijen Israel melakukan kunjungan ke Washington, sementara kepala militer Israel berkomunikasi rutin dengan pimpinan Komando Pusat AS.
Meski telah berlangsung tiga putaran perundingan nuklir di Muscat dan Jenewa melalui mediasi Oman yang terakhir berakhir hanya dua hari sebelum serangan dilancarkan, laporan tersebut menyebut tidak pernah ada ruang realistis bagi tercapainya kesepakatan yang dapat memuaskan Trump, Netanyahu, dan para pemimpin Iran secara bersamaan.
Setelah perundingan itu, utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner memberi tahu Trump bahwa kesepakatan tidak mungkin dicapai.
Ambisi Trump
Keputusan Trump untuk mengambil langkah militer juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan dirinya setelah keberhasilan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada Januari, yang dilaporkan ia pandang sebagai contoh potensi keberhasilan tindakan terhadap Iran.Di lingkaran dalam Trump, sejumlah pihak sempat menyuarakan keberatan. Bahkan Wakil Presiden JD Vance, yang dikenal skeptis terhadap invasi militer di Timur Tengah, pada akhirnya menyatakan bahwa jika Amerika Serikat memutuskan bertindak, maka sebaiknya dilakukan secara “go big and go fast.”
Serangan yang diberi nama “Operation Epic Fury” diluncurkan pada Sabtu dan menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Sejak operasi dimulai, enam personel militer AS dilaporkan tewas. Trump juga memperingatkan kemungkinan bertambahnya korban seiring kampanye militer yang diperkirakan berlangsung selama empat hingga lima pekan. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Khamenei Tewas, Netanyahu: Kematiannya Penting Demi Perdamaian Dunia