AS dan Tiongkok Cari Titik Temu soal Iran dan Jalur Energi Global

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping. (Xinhua)

AS dan Tiongkok Cari Titik Temu soal Iran dan Jalur Energi Global

Dimas Chairullah • 16 May 2026 09:29

Jakarta: Agenda pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing ternyata tidak hanya membahas perang dagang semata.

Ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan poros Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut mendorong kedua negara adidaya itu mencari titik temu kepentingan.

Salah satu fokus utama dalam pembahasan geopolitik tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Poppy Sulistyaning Winanti menilai, meski Washington dan Beijing masih terjebak dalam rivalitas panjang, keduanya memiliki kepentingan pragmatis yang sama terkait stabilitas di kawasan tersebut.

Menurut Poppy, Amerika Serikat berkepentingan mendorong Tiongkok menggunakan pengaruh politik dan ekonominya terhadap Iran guna membantu menurunkan tensi di Timur Tengah.

“Tiongkok selama ini punya kedekatan baik secara politik maupun ekonomi dengan Iran. Itu sepertinya diharapkan oleh AS agar bisa menjadi mediator untuk menurunkan tensi di Timur Tengah,” ujar Poppy kepada Metrotvnews.com, Jumat, 15 Mei 2026.

Taktis dan Transaksional

Meski demikian, Poppy menilai ruang gerak Tiongkok sebagai mediator tetap memiliki batas. Menurut dia, keterlibatan Beijing lebih didorong kepentingan menjaga keamanan jalur pasokan energi dibandingkan upaya menyelesaikan akar konflik di kawasan.

Tiongkok juga diperkirakan tetap mempertahankan prinsip non-intervensi langsung dalam konflik bersenjata yang tengah berlangsung.

“Mengharapkan peran Tiongkok yang lebih kuat untuk menyelesaikan akar persoalan perang itu agak sulit. Tiongkok sendiri cenderung menahan diri dan tidak ingin terlibat langsung dalam perang tersebut, apalagi sampai melakukan intervensi militer,” tegasnya.

Karena itu, pertemuan Trump dan Xi Jinping kali ini dinilai belum tentu menghasilkan terobosan besar bagi perdamaian di Timur Tengah. Kompromi yang tercapai kemungkinan lebih bersifat taktis dan transaksional.

“Tapi kalau tujuan utamanya sekadar memastikan jalur pasokan energi tidak terganggu, saya kira itu masih bisa dinegosiasikan dan diupayakan antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” tutup Poppy.

Baca juga:  Trump dan Xi Jinping Saling Adu Kartu Truf di Tengah Gencatan Perang Dagang

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)