BI Kencangkan Sinergi Demi Jaga Rupiah

Ilustrasi. Foto: Dok MI

BI Kencangkan Sinergi Demi Jaga Rupiah

Eko Nordiansyah • 3 June 2026 15:20

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk dengan pemerintah, dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus level baru pada kisaran Rp17.900-an per USD.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, BI memandang stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 3 Juni 2026.

Lebih lanjut, Ramdan memastikan bank sentral Indonesia terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Siapkan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan

BI juga memastikan senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal.

“Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Ramdan.

Sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas nilai tukar, BI mulai 2 Juni 2026 juga telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi USD25 ribu per pelaku per bulan.

Selain itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema local currency transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Adapun kerja sama LCT tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

(Eko Nordiansyah)