Ketua Komisi XIII Willy Aditya. Foto: Metro TV.
Willy Aditya Ingatkan Kepemimpinan Harus Berbasis Ide: Bukan Emosi
M Sholahadhin Azhar • 30 January 2026 20:48
Jakarta: Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya, mengingatkan kepemimpinan dalam negara demokratis, harus berbasis gagasan yang kuat. Bukan semata dorongan emosi atau pragmatisme kekuasaan.
Ketua Koordinator bidang Ideologi Organisasi dan Kaderisasi DPP Partai NasDem ini membeberkan dampak kepemimpinan yang tidak berbasis ide. Kepemimpinan itu, kata dia, hanya akan dipenuhi semangat tanpa nalar.
Demokrasi tanpa fondasi gagasan, kata Willy, hanya akan melahirkan kegaduhan politik tanpa tujuan yang jelas. "Partai NasDem didirikan dengan pendekatan kepemimpinan ide untuk menjaga arah republik. NasDem lahir dari kesadaran bahwa republik ini harus dipimpin oleh gagasan, bukan oleh reaksi sesaat,” ungkap Willy, Jumat, 30 Januari 2026.
Hal tersebut diungkap Willy saat membuka acara bedah buku 'Sutan Sjahrir: Perjuangan Kita' di Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026. Willy menilai diskusi-diskusi ideologis semacam ini penting untuk menjaga arah republik agar tidak kehilangan pijakan intelektual dan moral.
Willy dalam kesempatan tersebut juga mengkritik era Reformasi yang dinilainya lebih banyak digerakkan emosi tanpa kerangka ideologis yang solid.
“Kita marah, kita gelisah, tapi tidak punya peta ide tentang mau dibawa ke mana republik ini,” ujar Willy.
Willy kemudian menyinggung relevansi pemikiran Sutan Sjahrir sebagai teladan kepemimpinan intelektual dan moral. Ia menilai Sjahrir adalah figur yang berani berpikir jernih, bahkan saat harus berseberangan dengan tokoh besar seperti Soekarno.
“Sjahrir menunjukkan bahwa perbedaan ide tidak harus lahir dari kebencian atau sentimen personal,” tegas Willy.
Ketua Komisi XIII Willy Aditya. Foto: Metro TV.Menurutnya, kekuatan utama Sjahrir bukan hanya kecerdasan dan keberanian politik, melainkan moralitas dan virtue, termasuk kerelaan untuk dipimpin dan menghormati proses demokratis. Nilai-nilai inilah yang dinilai Willy semakin langka dalam praktik politik hari ini.
“Kita mungkin banyak orang pintar dan berani, tapi miskin virtue,” ujar Willy.
NasDem, kata dia, berupaya memposisikan diri sebagai partai pelopor ide, sebagaimana gagasan Sjahrir tentang pentingnya partai yang memberi keteladanan, bukan sekadar mengejar kemenangan elektoral. Meski belum menjadi partai pemenang pemilu, NasDem, berkomitmen mendorong lahirnya produk legislasi yang berdampak nyata bagi publik.
“Pekeloporan ide itulah komitmen politik kami,” tegas Willy.
Ia menambahkan, garis ideologis NasDem adalah republikanisme, yakni politik yang didedikasikan sepenuhnya untuk kemaslahatan rakyat dan kepentingan publik luas.
“Partai ini tidak mengutuk situasi, tapi berusaha menjawabnya dengan gagasan dan kerja konkret,” kata Willy.