Pancasila (Foto- bpip.go.id)
Kepala BPIP: Pancasila Fondasi dari Kebijakan Luar Negeri Bebas Aktif
Achmad Zulfikar Fazli • 1 June 2026 13:49
Jakarta: Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, mengatakan peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, tapi juga momentum refleksi untuk memastikan api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia. Tema yang diusung dalam peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini, Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” ujar Yudian dalam keterangannya, Senin, 1 Juni 2026.
Yudian mengatakan Pancasila adalah jangkar moral bangsa Indonesia dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik. Dia menegaskan Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia.
“Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif,” ucap dia.
Dia menyampaikan nilai musyawarah dan mufakat yang dianut Indonesia adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran Indonesia dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi Indonesia dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
“Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” ujar dia.

Ilustrasi Pancasila. Medcom
Baca Juga:
Prabowo: Pembangunan Ekonomi Indonesia Harus Sesuai Nilai Pancasila |
Yudian menekankan Indonesia Raya bukan mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan.
“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology). Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah,” ujar dia.
Dia menitipkan nilai-nilai Pancasila kepada para menteri dan kepala daerah. Para pejabat negara harus memastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan.
“Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia, Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya. Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai,” ujar dia.