Angka Keguguran di Gaza Melonjak, Picu Kekhawatiran Krisis Reproduksi

Salah satu rumah sakit di Jalur Gaza. (Anadolu Agency)

Angka Keguguran di Gaza Melonjak, Picu Kekhawatiran Krisis Reproduksi

Muhammad Reyhansyah • 23 June 2026 14:15

Gaza: Indikator kesehatan reproduksi di Jalur Gaza memburuk tajam dalam beberapa bulan terakhir, ditandai dengan meningkatnya angka keguguran dan menurunnya jumlah kelahiran di tengah konflik yang masih berlangsung.

Dalam unggahan di media sosial X pada Senin, 22 Juni 2026, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Muneer Alboursh, menyebut kondisi tersebut sebagai "genosida reproduksi" yang mengancam keberlangsungan generasi mendatang warga Palestina.

"Indikator kesehatan dan demografi di Jalur Gaza mengungkapkan salah satu krisis kemanusiaan kontemporer yang paling serius. Dampak perang tidak lagi terbatas pada korban yang terkena bombardir, tetapi telah meluas ke janin dalam kandungan ibu mereka," tulis Alboursh.

Berdasarkan data yang disampaikan Alboursh, angka keguguran di Gaza mencapai 460 kasus per 1.000 kelahiran hidup pada April 2026, atau lebih dari tiga kali lipat rata-rata global.

Ia mengatakan kondisi tersebut mencerminkan memburuknya situasi kesehatan, gizi, dan lingkungan yang diperlukan untuk menunjang kehamilan normal.

"Data menunjukkan bahwa 57 persen wanita hamil menderita anemia, angka yang termasuk tertinggi secara global di zona konflik dan daerah bencana kemanusiaan," tulisnya.

Menurut Alboursh, kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dan nutrisi penting bagi janin sehingga meningkatkan risiko keguguran.

Jumlah Kelahiran Turun Drastis

Selain meningkatnya angka keguguran, data yang dipaparkan Alboursh menunjukkan jumlah kelahiran di Gaza menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Jumlah kelahiran tercatat turun dari 6.076 kasus pada November 2025 menjadi 2.004 kasus pada April 2026.

"Jalur Gaza menyaksikan penurunan jumlah bayi baru lahir yang belum pernah terjadi sebelumnya, anjlok dari 6.076 kelahiran pada November 2025 menjadi hanya 2.004 pada April 2026, atau turun 67 persen hanya dalam beberapa bulan," tulis Alboursh.

Ia menilai penurunan tersebut bukan sekadar perubahan demografis sementara, melainkan indikator terganggunya kemampuan masyarakat untuk memulihkan keseimbangan populasi di tengah konflik.

Alboursh juga menyebut ratusan kehamilan berisiko tinggi dan kasus cacat lahir tercatat di tengah kondisi yang ditandai oleh kekurangan gizi, pencemaran air, kerawanan pangan, pengungsian berulang, tekanan psikologis berkepanjangan, serta memburuknya layanan kesehatan reproduksi dan maternal.

"Hubungan erat antara kelaparan, blokade, penghancuran sistem kesehatan, dan meningkatnya angka aborsi menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan lagi sekadar krisis kesehatan atau kemanusiaan, tetapi ancaman langsung terhadap kapasitas reproduksi dan masa depan demografis rakyat Palestina," tulisnya.

Alboursh memperingatkan bahwa apabila kondisi saat ini terus berlanjut, angka keguguran dapat melampaui 500 kasus per 1.000 kelahiran hidup dalam periode mendatang.

Menurut dia, perlindungan terhadap perempuan hamil serta akses terhadap makanan, layanan kesehatan, dan obat-obatan esensial menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan reproduksi dan keberlangsungan generasi mendatang di Gaza.

Baca juga:  Bayi Palestina Kembar Empat Lahir di Tengah Perang Gaza

(Willy Haryono)