Jeblok ke Level Terendah Sepanjang Masa, Sentimen Konsumen AS 'Hancur Lebur'

Daya beli masyarakat AS lesu di tengah kenaikan biaya energi. Foto: Li Jianguo/Xinhua.

Jeblok ke Level Terendah Sepanjang Masa, Sentimen Konsumen AS 'Hancur Lebur'

Husen Miftahudin • 11 April 2026 10:17

New York: Survei Konsumen Universitas Michigan dalam pembacaan awal melaporkan indeks Sentimen Konsumen Amerika Serikat (AS) anjlok menjadi 47,6 pada April 2026. Angka ini turun sebanyak 10,7 persen dari level 53,3 pada Maret 2026.

Angka tersebut merupakan level terendah yang pernah tercatat sejak 1952, seiring meningkatnya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga energi bahan bakar minyak (BBM) dan dampak yang lebih luas dari perang Iran.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 11 April 2026, pembacaan awal Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 50,1 pada April 2026, dari 55,8 pada Maret 2026. Indeks Ekspektasi Konsumen turun menjadi level 46,1, dari 51,7 pada Maret 2026.

Survei menunjukkan konsumen memperkirakan kenaikan harga sebesar 4,8 persen bulan ini dibandingkan tahun depan, kenaikan bulanan tertinggi sejak April 2025, dengan ekspektasi inflasi jangka panjang mencapai 3,4 persen, 0,2 poin persentase lebih tinggi daripada Maret.
 

Baca juga: Harga BBM Meroket, Amerika Cetak Inflasi Tertinggi


(Ilustrasi. Foto: Shutterstock)
 

Amerika cetak inflasi tertinggi gegara kenaikan harga BBM


Sebelumnya Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) negara tersebut meningkat sebesar 3,3 persen secara tahunan (yoy) pada Maret 2026. Inflasi ini terjadi karena biaya energi melonjak, mencatat lonjakan terbesar dalam hampir dua tahun.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyampaikan tingkat pertumbuhan CPI pada Maret dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan hampir satu poin persentase penuh dari laju tahunan Februari. Secara bulanan (mtm), harga konsumen secara keseluruhan naik 0,9 persen.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pendorong utama percepatan inflasi yang tajam ini. Indeks energi melonjak sebanyak 10,9 persen pada Maret, didorong oleh kenaikan harga bensin sebesar 21,2 persen, yang menyumbang hampir tiga perempat dari peningkatan bulanan di semua item.

Sementara itu, CPI inti, yang tidak termasuk komponen makanan dan energi yang fluktuatif untuk mengukur inflasi yang mendasar, meningkat lebih moderat, naik 0,2 persen (mtm) dan 2,6 persen (yoy).

Data tersebut mencerminkan periode kenaikan harga komoditas yang pesat sebelum gencatan senjata pada konflik yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun gencatan senjata AS-Iran telah memberikan sedikit keringanan, biaya energi tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.

Angka inflasi tahunan sebesar 3,3 persen menandai tingkat inflasi tertinggi selama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, mencapai level yang belum pernah terlihat sejak Mei 2024. Dampak berantai dari lonjakan energi dirasakan secara luas oleh konsumen Amerika.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)