Tercekik Harga Kebutuhan Pokok, Inflasi Negara Berkembang Diproyeksi Tembus 5,1%

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Tercekik Harga Kebutuhan Pokok, Inflasi Negara Berkembang Diproyeksi Tembus 5,1%

Richard Alkhalik • 29 April 2026 14:20

Washington: Meroketnya harga komoditas global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dipastikan akan menaikkan tingkat inflasi, sekaligus menekan laju pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Dampaknya akan dirasakan oleh negara-negara berkembang.

Dalam laporan terbaru Commodity Markets Outlook dari Grup Bank Dunia, merevisi proyeksi inflasi di negara berkembang menjadi rata-rata 5,1 persen pada 2026 berdasarkan skenario dasar. Angka ini terpaut satu poin persentase lebih tinggi dari ekspektasi awal sebelum perang pecah dan meningkat dari posisi 4,7 persen pada tahun sebelumnya.

Hal tersebut terjadi karena tergerusnya daya beli masyarakat akibat mahalnya harga kebutuhan pokok, serta anjloknya volume ekspor akibat pembatasan di kawasan Timur Tengah, sehingga laju pertumbuhan negara berkembang diproyeksikan ikut melambat.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan negara berkembang menjadi hanya 3,6 persen pada 2026, sebuah revisi turun sebesar 0,4 poin persentase sejak pembaruan Januari lalu.

Kepala Ekonom sekaligus Wakil Presiden Senior Bidang Ekonomi Pembangunan Grup Bank Dunia Indermit Gill menegaskan eskalasi peperangan saat ini menghantam ekonomi global melalui gelombang efek yang kumulatif.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Masyarakat kelas bawah paling rentan

Indermit mengatakan dalam situasi tersebut masyarakat kelas bawah menjadi pihak yang paling rentan tercekik lantaran porsi terbesar pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan pangan dan bahan bakar, serta negara-negara berkembang yang kini tengah tertatih menghadapi beban utang yang berat.

Situasi tersebut dapat lebih buruk jika konflik timur tengah terus memanas dan volume ekspor minyak lambat untuk pulih.

Bank Dunia memproyeksikan jika harga minyak Brent menyentuh skenario terburuk di kisaran USD115 per barel, maka inflasi di negara-negara berkembang dapat meroket ke level 5,8 persen pada tahun ini.

Posisi tersebut mencatatkan rekor tertinggi sepanjang satu dekade terakhir, dan level ini pernah tersentuh pada 2022 lalu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)