Khutbah Jumat tentang Menjaga Kesehatan di Tengah Ancaman Influenza

Foto: Kemenag Maluku

Khutbah Jumat tentang Menjaga Kesehatan di Tengah Ancaman Influenza

Putri Purnama Sari • 9 October 2026 07:16

Jakarta: Kasus influenza di Indonesia mengalami peningkatan pada akhir September 2026. Kementerian Kesehatan mencatat, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza atau memiliki positivity rate sebesar 56 persen.

Angka tersebut merupakan proporsi spesimen positif dari jumlah spesimen yang diperiksa. Artinya, angka 56 persen tersebut bukan berarti 56 persen penduduk Indonesia terkena influenza.

Peningkatan kasus influenza dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain pergantian musim, meningkatnya mobilitas dan pertemuan banyak orang, serta subtipe virus yang sedang dominan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga diri sekaligus melindungi orang lain dari risiko penularan penyakit.

Mengutip NU Online, berikut contoh khutbah Jumat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan melindungi sesama di tengah ancaman penyakit menular.

Khutbah I



Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mari kita panjatkan puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin, yang hingga detik ini Allah SWT masih memberikan kita kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan hari Jumat, memperbarui iman, dan memperbanyak amal kebajikan. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Marilah pada hari Jumat yang penuh berkah ini kita kembali memperbaiki hati dan memperbarui takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa pada akhirnya kita semua akan meninggalkan dunia serta segala isinya. Ketika itu terjadi, tidak ada yang paling berguna selain takwa.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Belakangan ini masyarakat kembali ramai membicarakan penyakit influenza A(H3H2) subclade K yang ditemukan di sejumlah wilayah di Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, penyakit tersebut telah terdeteksi di 13 provinsi di seluruh Indonesia.

Kondisi ini setidaknya mengingatkan kita bahwa kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang harus kita jaga. Menjaga kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang ada di sekitar kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:


Artinya, “Siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32).

Ayat yang baru saja kita dengar pada mulanya berbicara tentang larangan membunuh, sekaligus tentang besarnya nilai menjaga kehidupan manusia yang berlaku pada Bani Israil. Namun, pesan yang terkandung di dalamnya tidak hanya berlaku di kalangan Bani Israil, tetapi juga bagi setiap generasi tentang pentingnya menyelamatkan manusia dari berbagai hal yang dapat membahayakan mereka.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi ketika menafsirkan ayat tersebut. Menurutnya, menjaga kehidupan manusia mencakup upaya menyelamatkan mereka dari berbagai keadaan yang membahayakan, seperti kebakaran, tenggelam, kelaparan yang berlebihan, kondisi panas atau dingin yang ekstrem, serta berbagai kondisi membahayakan lainnya.
 

Imam ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid XI, halaman 344, mengatakan:



Artinya, “Siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Maksud dari memelihara kehidupan adalah menyelamatkannya dari berbagai hal yang dapat membinasakan, seperti kebakaran, tenggelam, kelaparan yang berlebihan, serta hawa dingin dan panas yang ekstrem.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dalam konteks memelihara kehidupan bersama, termasuk ketika menghadapi penyakit yang dapat menular seperti influenza A(H3H2) yang belakangan banyak diperbincangkan, kita tidak cukup hanya memikirkan kesehatan diri sendiri. Kita juga perlu memperhatikan keselamatan orang-orang di sekitar agar tidak menjadi sebab mereka tertular hingga membahayakan diri mereka.

Karena itu, ketika sedang sakit, terlebih jika terdapat risiko menular kepada orang lain, hendaknya kita mengambil langkah yang diperlukan, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, menjaga kebersihan, dan mengurangi interaksi yang tidak diperlukan.

Sikap semacam ini bukan hanya bentuk kepedulian kepada sesama, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan manusia sebagaimana yang diajarkan oleh agama.

Sikap tersebut pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Para ulama sejak dahulu telah memberikan perhatian terhadap penyakit yang dapat membahayakan orang lain.

Imam al-Qadhi Iyadh, sebagaimana dikutip oleh Syekh Khatib asy-Syirbini, menyampaikan bahwa para ulama melarang orang yang menderita penyakit kusta dan lepra untuk berada di masjid, menghadiri salat berjemaah, serta berbaur dengan masyarakat.

Dalam kitab Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Alfadzil Minhaj, jilid III, halaman 204 dijelaskan:



Artinya, “Imam al-Qadhi Iyadh mengutip dari para ulama bahwa orang yang terkena penyakit judam dan lepra dilarang berada di masjid, menghadiri salat berjemaah, dan berbaur dengan masyarakat.”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ketika terdapat kekhawatiran suatu penyakit dapat membahayakan orang lain, seseorang tidak hanya dituntut menjaga dirinya, tetapi juga menjaga keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Oleh sebab itu, menjaga kesehatan orang lain perlu diwujudkan dalam langkah-langkah nyata, baik secara individu maupun kolektif.

Secara individual, kita dapat membiasakan hidup bersih, menjaga daya tahan tubuh, menggunakan masker ketika sedang mengalami gejala penyakit, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta mengurangi interaksi dan kerumunan ketika kondisi tubuh dapat menularkan penyakit. Jangan pula merasa malu untuk berobat dan beristirahat ketika sedang sakit.

Sementara secara kolektif, kita perlu membangun lingkungan yang bersih dan sehat, menjaga kebersihan masjid, lingkungan, dan tempat-tempat umum, menyediakan fasilitas cuci tangan, serta saling mengingatkan dengan cara yang baik agar tidak meremehkan kesehatan.

Semua ikhtiar ini merupakan bentuk kepedulian kepada sesama. Menjaga kesehatan orang lain pada hakikatnya merupakan bagian dari menjaga kehidupan dan kemaslahatan bersama yang diajarkan dalam agama.

Demikian khutbah Jumat tentang menjaga kesehatan orang lain sebagai tanggung jawab bersama. Semoga khutbah ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.


  Khutbah II




(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)