Rupiah Ditutup Turun ke Rp17.966/USD Kamis Sore

Ilustrasi. Foto: Dok BI

Rupiah Ditutup Turun ke Rp17.966/USD Kamis Sore

Eko Nordiansyah • 1 October 2026 16:00

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah dipengaruhi rilis inflasi pada September 2026 dan rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 1 Oktober, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.966 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 72 poin atau setara 0,40 persen dari posisi Rp17.894 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.945 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 73 poin atau setara 0,41 persen dari Rp17.872 per USD di pembukaan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.937 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan dengan perdagangan pada pekan sebelumnya yang di level Rp17.877 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah)

Penyebab rupiah melemah

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pengumuman inflasi Indonesia yang mencapai 3,28 persen.

“Rupiah hari ini melemah dipengaruhi oleh domestik pengumuman inflasi September yang mencapai 3,28 persen level mendekati batas atas target BI (Bank Indonesia) 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujarnya dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 2,17 persen dan inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,30 persen.

Melihat sentimen global, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sudah menyentuh 5,3 persen imbas kekhawatiran kenaikan bunga Federal Reserve (The Fed) di bulan ini.

“Survei menunjukkan 36 persen yakin ada dua kali kenaikan lagi sampai dengan akhir tahun, kenaikan masing-masing 25 bps (basis poin). Yield obligasi pemerintah AS berpotensi naik lagi selain expectations kenaikan bunga juga karena pertumbuhan ekonomi AS masih kuat,” ucap dia.

(Eko Nordiansyah)