Mengenal Johannes Leimena, Tokoh di Balik Sejarah Lahirnya Puskesmas

Dr. Johannes Leimena (1905 –1977) adalah salah satu pahlawan Indonesia. (leimena.org)

Mengenal Johannes Leimena, Tokoh di Balik Sejarah Lahirnya Puskesmas

Silvana Febiari • 6 November 2026 09:10

Jakarta: Nama Johannes Leimena mungkin tidak sepopuler sejumlah tokoh besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, kiprahnya meninggalkan jejak penting, terutama dalam pembangunan sistem kesehatan nasional. 

Mengutip dari Wikipedia, ia dikenal sebagai dokter yang merintis konsep pelayanan kesehatan masyarakat yang menjadi salah satu fondasi lahirnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Lahir di Ambon, Maluku, pada 6 Maret 1905, Leimena bukan hanya dikenal sebagai seorang dokter. Ia juga merupakan politikus, diplomat, dan tokoh nasional yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Indonesia.

Dalam perjalanan politiknya, Leimena tercatat sebagai salah satu menteri dengan masa jabatan terpanjang pada era Presiden Soekarno. Ia pernah menduduki jabatan menteri dalam 18 kabinet berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II pada 1946 hingga Kabinet Dwikora III pada 1966. Total masa pengabdiannya di pemerintahan mencapai lebih dari 16 tahun.

Jabatan yang pernah diembannya beragam, mulai dari Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Menteri Sosial, hingga Menko Distribusi. Di luar pemerintahan, ia juga aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Konstituante, serta Ketua Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Masa Muda dan Pergerakan Nasional

Leimena berasal dari keluarga Kristen di Ambon. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Pada 1914, ketika masih berusia sembilan tahun, ia pindah ke Cimahi, Jawa Barat, sebelum melanjutkan pendidikan ke Batavia (kini Jakarta).

Semasa muda, Leimena mulai terlibat dalam pergerakan kebangsaan. Ia bergabung dengan Jong Ambon dan turut mengambil bagian dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda I dan II.

Keterlibatannya dalam gerakan pemuda menjadi bagian dari perjalanan panjang Leimena dalam memperjuangkan persatuan bangsa. Selain aktif dalam pergerakan nasional, ia juga terlibat dalam gerakan oikumene atau upaya membangun persatuan antargereja.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1930, Leimena memulai kariernya sebagai dokter. Ia bekerja di sejumlah rumah sakit di Batavia sebelum kemudian pindah ke Bandung.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, Leimena tetap menjalankan profesinya di bidang kesehatan. Ia bahkan dipercaya menjadi direktur rumah sakit di Purwakarta dan Tangerang.

Merintis Konsep Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Salah satu warisan penting Leimena adalah pemikirannya mengenai pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat luas, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan.

Saat menjabat Menteri Kesehatan, ia melihat bahwa persoalan kesehatan tidak cukup ditangani dengan membangun rumah sakit di kota-kota besar. Masyarakat di daerah terpencil juga membutuhkan akses pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Leimena mendorong pendekatan pelayanan kesehatan yang mengutamakan pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan masyarakat, serta pemerataan layanan hingga ke tingkat daerah.

Pemikiran tersebut dikenal melalui konsep Bandung Plan yang dikembangkan pada era kepemimpinannya di Kementerian Kesehatan. Konsep ini menjadi salah satu landasan perkembangan sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang kemudian mengarah pada pembentukan Puskesmas.

Gagasan tersebut menempatkan kesehatan sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat. Pelayanan kesehatan tidak hanya diberikan ketika seseorang sakit, tetapi juga melalui upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan.

Kini, Puskesmas menjadi salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia. Keberadaannya membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan dasar tanpa harus selalu mendatangi rumah sakit.

Diplomat dan Menteri Kepercayaan Soekarno

Setelah Indonesia merdeka, kiprah Leimena semakin luas. Ia mulai masuk ke pemerintahan sebagai Wakil Menteri Kesehatan sebelum dipercaya menjadi Menteri Kesehatan.

Selain menjalankan tugas di bidang kesehatan, Leimena juga terlibat dalam berbagai perundingan penting untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia tercatat menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam sejumlah perundingan, antara lain Perundingan Linggarjati, Renville, Roem-Roijen, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB).


Perundingan Renville (1947–1948) yang berlangsung di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Renville, di Teluk Jakarta. (leimena.org)


Keterlibatannya dalam diplomasi menunjukkan bahwa peran Leimena tidak terbatas pada urusan kesehatan. Ia turut mengambil bagian dalam upaya mempertahankan kedaulatan Indonesia melalui jalur perundingan.

Di bidang politik, Leimena ikut membantu pendirian Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Ia dipercaya memimpin partai tersebut sebagai ketua umum sejak 1950 hingga 1960.

Kedekatannya dengan Presiden Soekarno juga membuat Leimena dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis di pemerintahan. Selain Menteri Kesehatan, ia pernah menjabat Wakil Perdana Menteri dan Menteri Distribusi. Kepercayaan tersebut tercermin dari panjangnya masa pengabdiannya dalam berbagai kabinet selama pemerintahan Soekarno.

Peran di Tengah Gejolak Politik 1965

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 menjadi salah satu periode paling berat dalam perjalanan hidup Leimena. Rumahnya sempat menjadi sasaran serangan dalam rangkaian peristiwa yang terjadi pada malam tersebut.

Di tengah situasi politik yang memanas, Leimena tetap berada di lingkaran pemerintahan dan mengikuti sejumlah pertemuan penting bersama Presiden Soekarno.

Dalam pertemuan-pertemuan setelah peristiwa G30S, Leimena disebut memberikan nasihat kepada Soekarno agar situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan pecahnya perang saudara.

Pada 1966, ia juga menjadi saksi penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), salah satu peristiwa penting dalam sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia.

Memasuki era Orde Baru, Leimena tidak lagi menduduki jabatan menteri. Meski demikian, ia tetap aktif dalam kehidupan kenegaraan dan dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sementara.

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Johannes Leimena meninggal dunia pada 29 Maret 1977. Ia wafat setelah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan kesehatan, pemerintahan, diplomasi, dan kehidupan kebangsaan.

Pengakuan atas jasa-jasanya diberikan pemerintah melalui penetapan Leimena sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2010. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Leimena sebagai Pahlawan Nasional bersama Johannes Abraham Dimara melalui Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 2010.

Jejak pengabdian Leimena tidak hanya tercatat dalam sejarah kabinet dan perjalanan politik Indonesia. Pemikirannya mengenai pemerataan pelayanan kesehatan juga menjadi bagian penting dari perkembangan sistem kesehatan nasional.

(Silvana Febiari)