Inflasi Tiongkok Terus Meningkat di Tengah Gejolak Perang Timur Tengah

Mata uang Yuan China. (Anadolu Agency)

Inflasi Tiongkok Terus Meningkat di Tengah Gejolak Perang Timur Tengah

Muhammad Reyhansyah • 12 May 2026 06:41

Beijing: Kenaikan harga produsen dan konsumen di Tiongkok terus berlanjut pada April di tengah lonjakan harga energi dan bahan baku global yang dipicu perang di Timur Tengah.

Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) pada Senin, 11 Mei 2026 melaporkan indeks harga produsen naik 2,8 persen secara tahunan pada April.

Dikutip dari Anadolu, dampak kenaikan harga energi dan bahan baku global terhadap harga produsen disebut menjadi semakin terasa dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks tersebut sebelumnya mencatat kenaikan pertama sebesar 0,5 persen pada Maret setelah mengalami penurunan selama 41 bulan sejak kuartal keempat 2022.

Penurunan indeks harga produsen berlangsung selama tiga tahun setelah dimulai pada kuartal keempat 2022.

Indeks itu turun 3 persen pada 2023, 2,2 persen pada 2024, dan 2,6 persen pada 2025. Penurunan juga tercatat sebesar 1,4 persen pada Januari dan 0,9 persen pada Februari tahun ini.

Sementara itu, indeks harga konsumen yang menjadi indikator utama inflasi mencatat kenaikan 1,2 persen pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga konsumen di Tiongkok sebelumnya naik 1,3 persen secara tahunan pada Februari dan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun sebelum meningkat 1 persen pada Maret.

Harga konsumen di Tiongkok mulai memasuki periode stagnasi sejak 2023. Inflasi di negara tersebut hanya naik 0,2 persen pada 2023 dan 2024 serta tetap datar pada 2025.

Pemerintah Tiongkok tahun lalu juga menurunkan target inflasi tahunan dari 3 persen menjadi 2 persen akibat stagnasi yang terus berlangsung.

Baca juga:  Tiongkok dan Rusia Sepakat Kerja Sama Redakan Konflik Timur Tengah

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)