Ilustrasi UNIFIL. (Anadolu)
Prajurit Gugur saat Misi UNIFIL, Ini Tugas dan Sejarah TNI di Lebanon
Riza Aslam Khaeron • 8 April 2026 19:13
Jakarta: Pasukan Interim PBB di Lebanon (UNIFIL) telah menjadi sorotan imbas perang Iran yang telah menyebar ke Lebanon akibat konflik antara Israel dan kelompok militan Syiah Hizbullah sejak awal Maret lalu. Konflik antara kedua aktor tersebut telah menewaskan tiga tentara WNI di Lebanon.
Satu tentara tewas pada 29 Maret 2026 dikarenakan serangan Israel dan dua tentara lainnya pada 30 Maret 2026 yang diduga oleh ranjau Hizbullah berdasarkan laporan investigasi awal PBB. Kasus tragis tersebut memunculkan wacana penarikan tentara Indonesia dari wilayah Lebanon tempat lembaga PBB tersebut ditugaskan.
Namun, apa sebenarnya UNIFIL dan apa tugasnya dalam manajemen konflik tersebut? Berikut penjelasannya.
Tugas UNIFIL
UNIFIL merupakan pasukan misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibentuk pada 19 Maret 1978 melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 425 dan 426. Misi ini dibentuk lima hari setelah invasi Israel ke Lebanon dalam konteks melawan Organisasi Perlawanan Palestina (PLO) di Lebanon Selatan dan Perang Saudara Lebanon.UNIFIL awalnya dibentuk dengan dua resolusi tersebut untuk:
- Mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan.
- Memulihkan perdamaian dan keamanan internasional.
- Membantu Pemerintah Lebanon dalam memastikan kembalinya otoritas efektifnya di wilayah tersebut.
Berdasarkan Resolusi 1701 yang disahkan pada 11 Agustus 2006, UNIFIL, selain menjalankan mandatnya di bawah Resolusi 425 dan 426, harus:
- Memantau penghentian permusuhan.
- Mendampingi dan mendukung angkatan bersenjata Lebanon saat mereka dikerahkan ke seluruh wilayah Selatan, termasuk di sepanjang Blue Line (Garis Biru), saat Israel menarik angkatan bersenjatanya dari Lebanon.
- Mengoordinasikan kegiatan-kegiatan di atas dengan Pemerintah Lebanon dan Pemerintah Israel.
- Memperluas bantuannya untuk membantu memastikan akses kemanusiaan bagi penduduk sipil serta pemulangan sukarela dan aman bagi orang-orang yang mengungsi.
- Membantu Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) dalam mengambil langkah-langkah menuju pembentukan wilayah antara Blue Line dan sungai Litani yang bebas dari personel bersenjata, aset, dan senjata apa pun selain milik Pemerintah Lebanon dan UNIFIL yang ditempatkan di wilayah ini.
- Membantu Pemerintah Lebanon, atas permintaannya, dalam mengamankan perbatasannya dan titik masuk lainnya untuk mencegah masuknya senjata atau materi terkait ke Lebanon tanpa persetujuannya.
Di Mana UNIFIL Beroperasi?

Ilustrasi peta garis biru Lebanon. (Wikimedia Commons)
Wilayah operasional UNIFIL membentang mulai dari Sungai Litani hingga ke Blue Line .
Ditetapkan pada tahun 2000, Blue Line merupakan "garis batas" sepanjang 120 km (75 mil) yang ditarik oleh PBB untuk memisahkan wilayah Lebanon dan Israel.
Tujuan utamanya adalah untuk mengonfirmasi penarikan penuh militer Israel dari wilayah kedaulatan Lebanon sesuai mandat Resolusi DK PBB 425 dan 426.
Sesuai misi penjaga perdamaian di sepanjang garis tersebut, otoritas Israel maupun Lebanon diwajibkan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada UNIFIL terkait segala aktivitas yang dilakukan di sekitar area Blue Line.
Pasukan penjaga perdamaian ini harus menjaga sikap netral dan kehadirannya di wilayah tersebut sepenuhnya bergantung pada persetujuan negara tempat mereka bertugas.
| Baca Juga: RI Diminta Desak PBB Lakukan Investigasi Menyeluruh atas Serangan terhadap UNIFIL |
Sejak Kapan Indonesia Menyumbang Pasukan ke UNIFIL?

Personel UNIFIL berpatroli di Lebanon. (Anadolu Agency)
Keterlibatan tentara Indonesia dalam misi UNIFIL dimulai segera setelah perluasan mandat pascaperang pada tahun 2006.
Merujuk pada siaran pers Kementerian Pertahanan RI tahun 2016, pengerahan perdana pasukan perdamaian Indonesia ke Lebanon ini diatur melalui Keppres Nomor 15 Tahun 2006, yang menginstruksikan pengiriman 850 personel TNI di bawah panji Kontingen Garuda (Konga) XXIII-A.
Sementara itu, siaran pers UNIFIL tertanggal 11 November 2006 melaporkan bahwa unsur awal dari Batalion Indonesia telah tiba di lokasi penugasan pada 10 November 2006.
Gelombang kedatangan pertama yang terdiri atas 129 personel tersebut menjadi tonggak sejarah dimulainya kontribusi aktif Indonesia dalam struktur UNIFIL.
Kontribusi besar ini berawal dari permintaan diplomatik langsung, di mana Perdana Menteri Lebanon memohon dukungan Indonesia dalam misi tersebut.
”Perdana Menteri Lebanon telah berbicara dengan presiden dua kali untuk meminta kontribusi pasukan Indonesia," kata Menteri Koordinator Bidang Keamanan saat itu, Widodo Adi Sutjipto kepada wartawan, melansir China Daily pada Agustus 2006.
Meski rencana tersebut sempat mendapat tentangan dari pihak Israel, inisiatif pengiriman pasukan penjaga perdamaian ini disambut positif oleh Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush.
Seiring berjalannya waktu, peran Indonesia di UNIFIL terus berkembang secara signifikan. Kontribusi TNI tidak lagi terbatas pada unit infanteri darat semata. Berdasarkan data Kementerian Pertahanan tahun 2016, jumlah personel Indonesia yang bertugas di Lebanon sempat menyentuh angka hampir 1.300 orang.
Para prajurit ini tersebar di berbagai unit spesialis, mulai dari Indobatt (infanteri), Indomedic (medis), Maritime Task Force (MTF) (satuan tugas laut), hingga unit pendukung seperti Military Police Unit (MPU) dan jajaran staf militer di markas besar.
Hingga laporan terbaru per 30 Maret 2026, Indonesia tetap konsisten mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara kontributor utama dunia dengan menempatkan 755 personel aktif guna menjaga stabilitas dan perdamaian di wilayah Lebanon tersebut.