'Getok' Dolar AS, Harga Emas Melejit

Emas batangan. Foto: dok MIND ID.

'Getok' Dolar AS, Harga Emas Melejit

Husen Miftahudin • 15 April 2026 08:49

Chicago: Harga emas dunia melonjak pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), didorong oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah setelah data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan. Harapan berkelanjutan akan gencatan senjata permanen antara AS dan Iran juga meningkatkan selera risiko terhadap investasi emas.

Mengutip Investing.com, Rabu, 15 April 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini, naik 2,1 persen menjadi USD4.840,09 per ons. Sementara harga emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, naik dua persen menjadi USD4.864,67 per ons.
 
Baca juga: Dolar AS Melemah, Digilas 6 Mata Uang Utama Dunia


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Inflasi produsen AS tidak sebesar yang dikhawatirkan


Laporan indeks harga produsen (PPI) AS pada Maret 2026 menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dari yang dikhawatirkan. Angka utama inflasi naik 0,5 persen (mtm) dan 4,0 persen (yoy), dibandingkan dengan perkiraan konsensus masing-masing sebesar 1,1 persen dan 4,6 persen.

Peningkatan angka inflasi selama 12 bulan merupakan yang terbesar sejak Februari 2023, terutama didorong oleh lonjakan 8,5 persen (mtm) pada indeks harga energi permintaan akhir.

Meskipun dampak dari lonjakan harga minyak akibat konflik Iran diperkirakan akan terlihat dalam laporan tersebut, para investor merasa lega karena angka-angka utama tidak mencerminkan dampak tersebut.

Adapun sentimen risiko meningkat setelah data PPI, yang membuat para pedagang menjauhi aset safe haven seperti dolar, sehingga mendorong harga emas.

Pelemahan dolar AS, yang telah muncul sebagai aset safe haven pilihan selama konflik Timur Tengah saat ini, dapat membuat emas lebih menarik bagi pembeli luar negeri, yang berpotensi meningkatkan permintaan.

Emas biasanya bertindak sebagai aset aman pilihan selama krisis geopolitik, tetapi kali ini posisinya tergeser oleh dolar. AS dipandang sebagai pengekspor energi bersih, yang dapat membantu melindungi ekonomi Amerika dari gangguan aliran minyak dari Teluk Persia.

Selain itu, ekspektasi potensi kenaikan suku bunga untuk mengatasi guncangan inflasi akibat lonjakan harga minyak juga telah membebani logam mulia ini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)