Ilustrasi. Foto: Dok MI
Wall Street Menguat, Ini Faktor Pendukungnya
Eko Nordiansyah • 26 August 2026 07:55
New York: Wall Street berakhir menguat pada perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026, setelah saham teknologi kembali menguat dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS menurun.
Investor juga cenderung menahan transaksi besar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan laporan kinerja kuartalan Nvidia pada Rabu. Kedua agenda tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan prospek investasi di sektor teknologi.
Mengutip Investing, indeks S&P 500 naik 0,3 persen dan ditutup pada level 7.675,54 poin. Nasdaq Composite menguat 0,7 persen menjadi 26.151,30 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,3 persen ke level 53.577,17 poin.
Saham Nvidia pulih jelang laporan keuangan
Saham Nvidia menjadi salah satu penggerak utama perdagangan. Saham perusahaan semikonduktor tersebut ditutup naik lebih dari dua persen, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tujuh sesi berturut-turut.Pergerakan saham Nvidia menjadi perhatian investor karena perusahaan dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan pada Rabu.
Laporan tersebut dinilai penting untuk mengukur keberlanjutan tren investasi kecerdasan buatan (AI) yang menjadi salah satu pendorong utama pasar saham AS sepanjang tahun ini.
Ekspektasi terhadap kinerja Nvidia juga tergolong tinggi. Pendapatan kuartalan perusahaan diperkirakan hampir dua kali lipat secara tahunan menjadi sekitar USD92 miliar.
Namun, pertumbuhan yang tinggi tersebut juga meningkatkan ekspektasi investor. Kinerja yang tidak jauh melampaui perkiraan pasar berpotensi memicu tekanan terhadap saham perusahaan.
Kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor teknologi. Di satu sisi, investasi perusahaan-perusahaan besar terhadap infrastruktur AI terus meningkat. Di sisi lain, investor mulai mempertanyakan seberapa cepat investasi tersebut menghasilkan keuntungan.
Tekanan terhadap sektor semikonduktor bahkan sempat meningkat pada Juli ketika Philadelphia Semiconductor Index turun lebih dari 20 persen.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Yield Treasury dan harga minyak menurun
Penguatan Wall Street juga didukung oleh penurunan harga minyak dan yield Treasury AS.Yield obligasi pemerintah AS melanjutkan penurunan selama dua hari berturut-turut setelah mengalami tekanan pada pekan sebelumnya. Penurunan yield memberikan ruang bagi saham, terutama saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.
Pergerakan pasar obligasi juga dipengaruhi laporan mengenai kemungkinan penggunaan Treasury General Account (TGA) untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang.
Langkah tersebut dipandang dapat membantu menahan kenaikan yield, khususnya pada obligasi dengan tenor panjang. Namun, analis menilai intervensi tersebut lebih bersifat jangka pendek karena persoalan fundamental terkait peningkatan utang fiskal AS masih menjadi perhatian pasar.
Total utang pemerintah AS bahkan telah melampaui USD40 triliun pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, penurunan harga minyak turut memberikan sentimen positif bagi pasar karena dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi dan biaya produksi.
Investor menunggu data inflasi AS
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS untuk Juli yang akan dirilis pada Rabu.PCE inti merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter. Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah suku bunga AS.
Perhatian pasar kemudian akan beralih ke pidato anggota Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat.
Perkembangan inflasi dan arah kebijakan moneter menjadi penting bagi pasar saham karena perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan perusahaan sekaligus valuasi aset berisiko.
Keyakinan konsumen AS melemah
Dari sisi ekonomi domestik, indikator keyakinan konsumen AS menunjukkan pelemahan.Conference Board mencatat indeks keyakinan konsumen turun menjadi 89,4 pada Agustus dari 90,2 pada Juli. Angka tersebut merupakan level terendah dalam tujuh bulan.
Pelemahan keyakinan konsumen terjadi setelah data penjualan ritel Juli menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Kinerja sejumlah peritel besar AS juga memberikan gambaran beragam mengenai daya beli masyarakat. Walmart, misalnya, mencatat pertumbuhan comparable sales di AS yang menjadi yang terlemah dalam enam tahun terakhir.
Kombinasi antara ketahanan konsumsi, perkembangan inflasi, kebijakan suku bunga, dan prospek investasi AI menjadi faktor yang akan menentukan arah Wall Street dalam perdagangan selanjutnya.