Arus lalu lintas di jalan raya yang menghubungkan Meksiko dengan Amerika Serikat. (EFE)
Kekerasan Kartel Narkoba Picu Keraguan soal Laga Piala Dunia 2026 di Meksiko
Muhammad Reyhansyah • 25 February 2026 18:04
Guadalajara: Tembakan dan ledakan yang menggema di luar rumah Hugo Alejandro Pérez, tak jauh dari stadion di Guadalajara yang dijadwalkan menjadi lokasi pertandingan Piala Dunia 2026, membuat pengusaha restoran berusia 53 tahun itu kian meragukan kesiapan kotanya menjadi tuan rumah ajang sepak bola internasional tersebut.
Sejak awal ia sudah mempertanyakan kesiapan pemerintah yang dinilainya belum mampu menyelesaikan persoalan dasar seperti layanan air di rumahnya, sementara kekerasan kartel terus melanda negara bagian Jalisco.
Lonjakan pertumpahan darah pekan ini setelah militer Meksiko menewaskan pemimpin kartel paling kuat di negara itu semakin menguatkan keraguannya.
“Saya tidak pikir mereka seharusnya menggelar Piala Dunia di sini,” kata Pérez, dikutip dari Korea Times, Rabu, 25 Februari 2026.
Pérez menambahkan, “Masalah kita begitu banyak, tapi mereka ingin berinvestasi untuk Piala Dunia? Dengan semua kekerasan ini, itu bukan ide bagus,”
Pérez termasuk warga yang pada Selasa mempertanyakan kemampuan Guadalajara menjadi kota tuan rumah turnamen musim panas tersebut, meski pemerintah Meksiko menegaskan ajang internasional yang digelar bersama Amerika Serikat dan Kanada itu tidak akan terdampak.
Jaminan Keamanan Piala Dunia
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, saat ditanya dalam konferensi pers harian mengenai jaminan penyelenggaraan pertandingan di Jalisco menjawab singkat: “Semua jaminan tersedia,” seraya menambahkan bahwa tidak ada risiko bagi penggemar yang datang ke turnamen.Gubernur Jalisco, Jesús Pablo Lemus, mengatakan ia telah berbicara dengan pejabat lokal FIFA yang disebutnya “sama sekali tidak berniat mencoret lokasi mana pun dari Meksiko. Tiga lokasi tetap sepenuhnya tidak berubah.”
Pada hari yang sama, federasi sepak bola Portugal menyatakan sedang “memantau secara ketat situasi sensitif” di Meksiko. Tim nasional mereka dijadwalkan menghadapi Meksiko dalam laga persahabatan 28 Maret di Stadion Azteca yang baru direnovasi di Mexico City, venue pembuka Piala Dunia pada 11 Juni.
Negara bagian Jalisco sendiri sudah lama menjadi sorotan karena kekerasan kartel, termasuk penemuan lokasi pembunuhan kartel di sebuah peternakan Maret lalu serta krisis orang hilang.
Wilayah ini merupakan basis utama Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), yang dipimpin Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, yang tewas pada Minggu dalam upaya penangkapan oleh militer.
Operasi tersebut dan gelombang kekerasan yang menyusul menewaskan 70 orang. Orang-orang bersenjata kartel membakar kendaraan untuk memblokir jalan di sejumlah negara bagian terutama Jalisco dan bentrok dengan pasukan hingga Senin sebelum pemerintah menyatakan situasi terkendali.
Kematian Oseguera Cervantes terjadi saat pemerintah Meksiko meningkatkan ofensif terhadap kartel guna memenuhi tuntutan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar menindak kelompok kriminal.
Gedung Putih mengonfirmasi Washington memberi dukungan intelijen untuk menangkap pemimpin kartel tersebut dan memuji militer Meksiko. Trump kemudian menyinggung operasi itu dalam pidato kenegaraan dengan mengatakan, “Kami juga telah menjatuhkan salah satu raja kartel paling berbahaya. Kalian melihatnya kemarin.”
Keraguan Warga soal Turnamen
Pérez sendiri mengingat ketika baku tembak pecah pada Minggu dan orang bersenjata membakar mobil hanya beberapa meter dari rumahnya. Ia membuka pintunya agar warga yang panik bisa berlindung, sementara pertempuran berlangsung sekitar satu jam.Kini ia menilai penyelenggaraan pertandingan tidak akan banyak membantu usaha kecil di lingkungan kelas pekerja seperti miliknya, meski hanya berjarak sekitar 10 menit dari stadion. Ketegangan serupa juga disebut muncul di Mexico City.
Federasi Sepak Bola Meksiko memperkirakan Piala Dunia dapat menjadi mesin ekonomi senilai 3 miliar dolar bagi negara tersebut.
“Sejujurnya ini tidak membantu kami sebagai warga. Mereka seharusnya memindahkannya ke Monterrey atau Mexico City. Untuk saat ini, di sini kami belum yakin,” ujarnya.
“Keadaan belum cukup baik bagi orang asing untuk datang ke Jalisco untuk acara seperti ini,” lanjutnya.
Beberapa turis asing yang terjebak kekerasan di Puerto Vallarta bahkan memperingatkan situasi tersebut melalui media sosial, sebagian menyatakan tidak berencana kembali.
Meski demikian, pada Selasa Guadalajara mulai kembali ke ritme normal. Banyak bisnis kembali buka setelah dua hari tutup, lalu lintas kembali padat, dan pekerja terlihat memperbaiki bagian luar stadion Piala Dunia.
Polisi bersenjata berat serta anggota Garda Nasional berpatroli di kota, yang bagi sebagian warga menandakan situasi sudah terkendali.
Baca juga: FIFA Jamin Keamanan Piala Dunia 2026 di Meksiko Tetap Kondusif